Hari seleksi kedua terkesan lebih serius dibandingkan hari pertama. Kami akan menghadapi wawancara panel yang lebih mendalam bersama 4 alumni program pertukaran Pemuda antar negara Kalimantan Selatan. Selain itu kami memiliki kewajiban untuk menampilkan suatu penampilan seni dan budaya Kalimantan Selatan bersama kelompok yang sudah dibagi pada seleksi hari pertama. Saya salah satu anggota kelompok dua bersama Dede. kami diwajibkan untuk membawa busana yang bisa menunjang penampilan kesenian kami. Saya memutuskan untuk membawa pakaian Dayak yang sudah pernah saya tampilkan pada seleksi pemilihan Duta Mahasiswa 2016. Waktu itu saya menampilkan tarian Dayak kontemporer yang bisa dibilang unik dan menarik banyak penonton. Kali ini saya sebenarnya juga merencanakan menampilkan tarian yang sama, lengkap dengan bubuk damar dan sumbu yang sudah siap untuk dijadikan obor. Tarian Dayak yang ingin saya tampilkan adalah tarian yang biasanya digunakan dalam menyambut tamu kenegaraan atau di saat ada festival budaya di Banjarmasin. Tarian ini istimewa karena ada kombinasi gerak menyembur api obor dengan bubuk damar, saat bubuk dilempar ke arah sumber api dan apinya membesar kelangit. Tapi karena kami sudah dibagi menjadi dua kelompok maka penampilan akan dilakukan per kelompok dan tidak perorangan. Kelompok saya memutuskan untuk menampilkan suatu penampilan teaterikal gabungan antara seni tari, suara, dan tutur. Kami sudah merencanakannya di malam sebelum seleksi hari ke 2. Segera setelah mengetahui kami berada di kelompok mana dan apa yang harus kami lakukan.
Leaderless Group Discussion harus kami lewati bersama dengan peserta lain ditemani satu alumni. Seluruh peserta terbagi di tiap-tiap kelompok kecil. Tema kali ini membahas bagaimana caranya melestarikan pasar terapung yang ada di Kota Banjarmasin. Diskusi diharuskan menggunakan bahasa Inggris sepenuhnya. Jujur, awalnya saya merasa kaku disaat harus berdikusi bersama peserta lainnya. Akhir-akhir ini saya jarang menggunakan bahasa Inggris di saat berdiskusi. Saya merasa bahasa Inggris saya jauh lebih baik di saat saya tinggal di Jepang dulu dibandingkan sekarang. Saya merasa saya terlalu fokus dengan kuliah dan sedikit mengabaikan kemampuan bahasa Inggris saya di saat berdiskusi. Diskusi berjalan lancar, durasi yang diberikan adalah 30 menit, dan semua peserta di kelompok saya mendapatkan porsinya masing-masing. Tapi tentu saja di setiap kelompok diskusi pasti ada yang terkesan ingin mengambil alih kendali dan ada juga yang terkesan ingin bersifat pasif dihadapan peserta lain. Saya sempat mengintip kelompok lain di lingkaran kecil sebelah saya. Hanya beberapa peserta yang berdiskusi dan jarang sekali ada yang ide. Saya yakin juri mengharapkan adu argumentasi yang terkait dengan ide-ide segar dan memberikan solusi yang terbaik untuk semua pihak berdasarkan tema yang dibahas. Diskusi sudah kami lewati. Detelah jeda sholat dan juga makan siang kami akan menghadapi satu kali lagi wawancara yang lebih mendalam bersama alumni. Wawancara ini berbeda dibandingkan wawancara hari pertama. Kali ini satu peserta akan menghadapi lima atau lebih alumni di dalam satu ruangan khusus, dan wawancara akan menggunakan 100% bahasa Inggris. Kisi-kisi wawancara ini adalah kontribusi masyarakat, kepribadian dan program apa yang kita inginkan, atau setidaknya itu yang kami dapat dari peserta yang sudah menjalaninya tahun lalu.
Seluruh peserta menunggu diruang seleksi tertulis, santai sekali. Waktu kosong diisi dengan permainan-permainan yang didapat alumni dari program. Kami didudukkan melingkar membentuk lingkaran besar, saling bercerita dan membuka rahasia alasan-alasan tersembunyi dibalik keikutsertaan masing-masing. Dalam lingkaran selalu ada satu kursi kosong, kursi peserta yang sedang menjalani 'sidang'.
"Bersiap selanjutnya nomor 42, Rima Hayati". Farras mengumumkan nama saya disela-sela cerita salah satu peserta yang mulai berkaca-kaca, lagi.
"Semangat Rim!" seluruh ruangan menyemangati saya. sebenarnya tidak hanya saya yang disemangati. Tiap ada peserta yang kembali atau mendapatkan giliran 'sidang', selalu kami sambut dan antarkan dengan tepukan tangan meriah.
Saya bangkit dari kursi saya, membuka jalan menuju pintu ruangan, di langkah ketiga saya secara acak teringat ibu asuh saya di Shizuoka, Jepang. Beliau pernah berucap ketika mengantarkan ke pemberhentian bus menuju bandara di akhir program setahun saya,
"Rima chan kan sudah belajar banyak di sini (Jepang), pulang ke Indonesia harus menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Rima chan anak perempuan yang membanggakan keluarga Kobayashi, sudah seperti anak kami sendiri".
Saya tersenyum sambil melewati pintu ruangan, lalu belok kanan menuju ruangan yang lebih kecil. Masih terdengar suara salah satu peserta, itu Tika. Terdengar kalimat-kalimat tegas yang mantap dan diiringi suara tawa santai oleh semua orang di dalam ruangan. Saya yakin wawancara dia kali ini pasti tanpa ada kekurangan. Duduk disebrang saya salah satu alumni, yang juga saya kenal sedari dulu, Yandhi.
"Jangan tegang Rim!"
"Nggak kok kak, cuman belum rileks saja."
"Rima kan sudah terbiasa wawancara, kali ini pasti akan berhasil dengan baik."
"Ka, saya… agak khawatir.."
"Ah, jangan ragu! Kaka saja mencoba Pertukaran Pemuda ini lebih dari tiga kali sebelum lolos, ini baru kali kedua kamu kan?". Saya mengangguk saja tanpa balasan dan memutuskan untuk berdoa di dalam hati. Sepertinya Tika sudah hampir menyelesaikan wawancaranya.
"Oke, giliran kamu Rim!" Yandhi memberikan kode dengan matanya, mempersilakan saya masuk ke ruangan. Tika melewati saya dengan senyuman lega yang baru saja dia peroleh.
Terdapat 4 juri utama, dan beberapa alumni muda dibelakangnya berdiri acak. Saya dipersilakan duduk dan mengenalkan diri. So far so good. Saya ditanyai mengenai kemampuan bahasa Jepang saya, bagaimana saya menyikapi permasalahan, apakah saya rela cuti kuliah untuk SSEAYP dan satu pertanyaan yang masih saya ingat.
"Jika diminta mengurutkan, apa yang kamu prioritaskan: Pendidikan, karir, keluarga, atau pasangan." juri yang lain tersenyum, apalagi para alumni baru yang dari tadi menyimak dibelakang sambil mengumpulkan dokumentasi seleksi. Saya pun termasuk dari salah satu yang tersenyum di ruangan itu. Sepersekian detik saya ingat Beny, mungkin dia sedang latihan di hutan sekarang. "Rim, fokus!", pikiran saya kembali ke ruangan wawancara.
"Ibu saya berpesan agar terus melanjutkan sekolah saya, artinya pendidikan menjadi utama, saya pun begitu. Jika diminta mengurutkan saya akan menempatkan keluarga pertama. Mereka yang membesarkan saya dan mendukung saya sampai dengan sekarang, ini termasuk juga keluarga masa depan saya."
"Maksud kamu keluarga kamu satukan dengan pasangan?" sela salah satu juri disaat ada cela.
"Betul, setelahnya pendidikan dan karir saya, karena disaat keluarga kita mendukung dan mendoakan, maka Tuhan pasti akan memberikan kemudahan untuk segala rencana pendidikan dan karir kita" saya rendahkan intonasi memberi tanda akhir dari jawaban saya.
"Baik, jadi keluarga, pasangan, pendidikan dan karir ya?" kesimpulan juri yang cukup singkat, saya pikir.
"Keluarga, pendidikan dan karir" saya berikan jawaban yang lebih singkat.
"Setuju ". Ucap salah satu juri lalu mencantumkan nilai di kertas yang segera ditutupi dengan mapnya.
"Baik, apakah ada tambahan dari juri lain?" sesama juri melihat satu sama lain dan sama sama setuju bahwa wanwancara kali ini sudah cukup.
Saya pamit undur diri, dan salim cium tangan kepada seluruh juri, mengangguk kepada alumni dan membawa diri saya keluar dari ruangan.
Habis sudah usaha saya. Sepanjang perjalanan kembali ke ruangan, wawancara yang baru saja saya lewati tadi adalah wawancara tersingkat dari semua wawancara yang saya lewati beberapa tahun terakhir. Ada sedikit keraguan di diri saya, tapi semuanya sudah berakhir, hanya 120 menit lagi sebelum mengetahui siapa yang berangkat Oktober nanti di program SSEAYP.
Ternyata 120 menit itu, menit-menit tercepat dihidup saya. Kak Sri, salah satu perwakilan alumni dan juri sudah siap untuk mengumumkan terbaik kelima hingga terbaik pertama setiap program. Saya mencari-cari Farras, siapa tahu saya bisa membaca pesan dari wajahnya. Farras, dimana Farras.. Saya celingukan.
Peringkat pertama Program Indonesia Korea Youth Exchange Program, Tika. Dede menjadi peringkat kedua. Untuk program Indonesia China Youth Exchange Program, satu-satunya program untuk laki-laki tahun ini diperoleh Albana. Untuk Indonesia Malaysia Youth Exchange Program, sudah berdiri didepan, Natalia Lois. Saat SSEAYP mulai diumumkan, saya masih mencari-cari Farras. Itu dia. berdiri di kanan panggung sedari tadi melihat saya yang sudah gelisah. Saya sipitkan mata saya menyampaikan pertanyaan dalam hati.
"Gimana Ras?" Farras tersenyum dan mengangguk.
"Serius?!" hati saya langsung berpacu, tenang.. tenang.. belum diumumkan.
"Peringkat pertama dan yang akan menjadi calon peserta SSEAYP ke 43 tahun 2016 adalah.." jeda yang terlalu menegangkan.
"Rima Hayati Authari"
Ruangan terlihat riuh dibalik air dimata saya, rasanya hening dan khidmad. Sudah lama saya tidak merasakan momen seindah ini. Mulut saya terus berucap terima-kasih atas tepuk tangan dan ucapan selamat teman-teman yang ada. Kaki-kaki saya melangkah kedepan dengan ringan, pasti karena darah saya mengalir begitu cepat keseluruh tubuh. Apa yang saya lakukan sehingga saya pantas mendapatkan nikmat ini Tuhan?
Rima Garuda 43
Friday, March 17, 2017
Hari kedua
Selanjutnya
"Saya seorang piatu dan sering membantu ibu saya berjualan di pasar. Saya merasa memberatkan ibu saya". Ucap salah satu peserta yang duduk dikursi seleksi bagian psikologi.
Saya langsung menoleh setelah kalimat tersebut diucapkan diiringi isakan tangis. "Loh, kok nangis?!" pikir saya heran. Saya terus mendengarkan sebagian cerita kehidupannya sambil memberi kode lambaian dan pesan non verbal lainnya kepada panitia untuk meminta kotak tisu.
"Kamu rindu ibu kamu?" Lanjut juri bidang psikologi.
Jawaban itu belum terjawab. Segera dilewati karena tangisan semakin menjadi-jadi.
"Jadi... Rima. Apa kabar?Gugup ya?". Giliran saya tiba.
“Jangan terbawa emosi Rima, tenang. Jawab dengan jujur dan percaya diri. Semuanya akan baik-baik saja. Tarik nafas dalam dan rileks”. Suara di hati saya mencoba menenangkan batin sendiri.
"Kabar saya baik kak, kalau gugup tentu saja." jawab saya singkat, menunggu pertanyaan yang sesungguhnya.
"Orang tua Rima sekarang dimana?". Pertanyaan yang sebenarnya mudah sekali saya jawab, tapi suasana wawancara kali ini sungguh berbeda, apalagi disebelah saya tidak henti tersedu-sedu masih karena pertanyaan pertama.
"Orang tua saya sudah meninggal kak, sewaktu saya masih 13 tahun dulu." Jawabku masih dengan senyuman yang sama. Saya tahu dia tahu senyuman saya hanyalah formalitas wawancara.
Juri bertanya lagi “Boleh Rima ceritakan apa yang terjadi saat itu hingga sekarang?” Saya terdiam beberapa saat mengatur emosi. Saya mulai berpikir dan memutar ulang memori mengenai bagaimana ibu saya sakit tahun 2005 di saat beliau dan Abah saya membuka pintu rumah dengan mata yang sembab dan hati yang mungkin tidak karuan . Saat itu saya merasa ada sesuatu yang aneh di antara mereka. Saya yang masih berusia 13 tahun masih belum mengerti, tapi sekarang tahu raut wajah yang seperti itu merupakan raut kesedihan, kekhawatiran dan tentunya kebingungan. Malam itu adalah malam disaat Mama saya divonis kanker payudara. Orang tua saya merupakan asli dari Kalimantan Selatan dan putra-putri daerah. Mereka besar tidak di kota seperti saya. Mama saya besar di kota rantau dan Abah saya besar di Kota Kandangan. Mereka berdua lalu pindah ke kota Banjarmasin untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi sebagai guru sekolah menengah atas. Percintaan mereka pun dimulai di saat mereka bertemu pada masa perkuliahan . Perbedaan usia yang hanya satu tahun membuat mereka memiliki pemikiran yang sama. Keinginan untuk membesarkan putri-putri mereka menjadi wanita wanita yang bisa berdiri sendiri bahkan di saat mereka telah tiada. Saya ingat dulu sewaktu saya kecil Ibu saya sudah mengajarkan tentang kewajiban seorang perempuan. Mencuci baju sendiri, mencuci piring bahkan memasak di saat kakak saya berusia 13 tahun dan saya masih 6 tahun. Berbeda dengan Abah. Abah seseorang yang tegas dan lembut pada saat yang beliau sendiri tentukan. Abah itu orang yang mengerti perasaan putri-putrinya, bahkan beliau seakan-akan bisa membaca apa saja yang terjadi di sekolah atau dalam pergaulan kami berdua sehari-hari . Pertanyaan juri juga membuat saya teringat saat hari minggu masih menjadi hari kesukaan saya. Hari Minggu adalah hari yang sungguh Istimewa karena di hari itu kedua orang tua saya tidak bekerja dan menghabiskan waktu di rumah bersama kedua putrinya. Setiap hari Minggu Mama selalu memasak untuk sarapan pagi dibantu dengan kakak saya. Abah pastinya sedang bercengkrama dengan tetangga sambil menyiram tanaman di halaman rumah yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membuat rumah kami yang kecil dan sederhana pada saat itu terasa sejuk dan sangat nyaman bagi kami Putri Putri nya. Masih saja jika ditanya apa kenangan terindah keluarga, saya akan menjawab adalah hari Minggu di saat orang tua saya masih ada, sebelum Mama saya meninggal dan Abah saya 9 bulan setelahnya. Saya dengan cepat menceritakan bagaimana saya menyaksikan Mama saya melawan kanker selama 4 tahun serta semua terapi dan pengobatan-pengobatan yang beliau jalani hingga akhir hayat.
Pertanyaan dari juri seharusnya saya jawab dengan singkat dan sejujurnya, tetapi pada saat itu saya malah terkenang dengan semua kenangan-kenangan indah bersama orang tua. Tidak bisa membohongi diri saya sendiri, bahwa saya juga merindukan orang tua saya seperti beserta yang di samping saya, yang kali ini tisu di tangannya saya ambil secara perlahan, takut dia akan merasa terganggu dengan kehadiran air mata saya juga.
Juri terdiam dan tersenyum saja menyaksikan saya yang berlagak kuat, mulai berhenti menjatuhkan air mata. Saya tutup kalimat saya dengan “Tentu, air mata saya hari ini tidak akan sebanding dengan air mata bangga orang tua saya jika berhasil lolos dan terpilih menjadi delegasi Indonesia”
Wawancara dilanjutkan dengan tes psikologi yang sebenar-benarnya, memilih beberapa gambar dan dimaknai oleh juri setelahnya. Beberapa wawancara selanjutnya cukup mendalam mengenai kontribusi masyarakat dan rencana kegiatan apa yang ingin dilaksanakan setelah program usai. Bidang kebangsaan yang cukup unik dan sederhana. Peserta diminta untuk menyebutkan Pancasila dengan lancang, komplit dengan seluruh pilar-pilar bangsa. Ada yang geleng-geleng kepala, lupa. Ada yang jujur sejujur-jujurnya tidak tahu. Ada juga yang sudah menyimpan catatan namun malah terbata-bata saat menjawab. Selain itu di bidang religi, saya mendapatkan pertanyaan mengenai tajwid Al-Qur’an dan mengumandangkan azan ditempat. Pertanyaan “siapa Tuhanmu?” sempat mengagetkan saya. Tapi kesimpulannya, semua wawancara berjalan lancar dan tanpa penyesalan.
Selesai sudah seleksi hari pertama. 40 peserta yang terdiri dari 20 laki-laki dan 20 perempuan bisa bersantai sejenak menunggu pengumuman 20 besar. Peserta akan dipotong setengahnya sore ini tepat pukul 18.00 WITA. Saya cukup puas dengan hari ini, banyak mendapatkan teman baru dan bisa memberikan semua yang terbaik di diri saya. Hati saya tidak mengucapkan “Apapun hasilnya yang penting sudah berusaha”, tapi hati saya berkata “Sudah aku bilang, kamu pasti bisa”.
40 puluh peserta sudah terikat di salah satu grup jejaring sosial, dan seperti yang hati saya prediksi akan ada kalimat “Apapun hasilnya yang penting sudah berusaha” tersebar, bahkan sebelum 20 besar diumumkan. Seharian ini ternyata banyak sekali peserta yang sudah menjadi 5 besar program di tahun 2015. Peserta-peserta kuat yang sudah semakin matang dan tahu apa yang harus diperbaiki dari tahun sebelumnya. Saya salah satu yang termuda saat itu kagum sekali dengan beberapa peserta yang dari cerita-ceritanya berani meninggalkan pekerjaan tetapnya untuk mengikuti program jika lolos. Suatu pengorbanan yang besar untuk suatu prestasi yang juga tak kalah besarnya.
Obrolan di parkiran bersama peserta lain yang sudah menjadi teman, mengulur waktu saya sebelum kembali kerumah. Saya senang sekali mendengar kalimat-kalimat semangat merka. Belum pengumuman saja sudah banyak yang berniat untuk mengikuti seleksi lagi tahun depan jika tahun ini belum berhasil. Ada yang berencana melihat pengumuman bersama-sama, saya pun diajak. Tapi saya pikir mungkin akan lebih baik jika menikmati momen yang ditunggu-tunggu seperti pengumuman kali ini sendirian. Bukan karena sungkan, tapi karena lebih bebas berekspresi, jika hasilnya seperti yang diinginkan ataupun tidak. Sengaja saya hitung-hitung durasi perjalanan agar setibanya saya dirumah, bisa langsung membuka halaman web Purna Caraka Muda Indonesia Kalimantan Selatan dan menggeser layar kebawah, meneliti nama yang tertera satu persatu.
Rumah saya masih kosong sore itu. Internet belum bisa dipasang karena rumah saya dan kakak adalah perumahan yang tanahnya baru dibuka. Satu-satunya harapan adalah melihat dari smartphone: kabar di jejaring sosial, atau membuka halamannya langsung. Saya putuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu, mengulur-ulur waktu. Waktu menunjukkan pukul 18.15 WITA. Smartphone saya diamkan diatas meja makan. Saya ambil segelas air putih dan duduk rapi layaknya para tentara duduk siap. Satu tarikan nafas. Dua tarikan nafas, dan saya ambil smartphone, membuka kunci layarnya dan mencoba menghindari pemberitahuan jejaring sosial yang sudah mulai penuh dengan ucapan sekilas lewat bertuliskan “Congratulations…”. Lalu saya tekan ikon bergambar dunia berwarna chrome, mengetikkan alamat tujuan: pcmikalsel.org, dan langsung mendekatkan layar kewajah.
Dear participants,
Hereby we announce 20 survivors to get 4 golden tickets for PPAN 2016 Kalimantan Selatan. This list also includes your group performance at once:
Group 1:
1. Adetya Norizkyka
2. Eko Ardian Novi Saputri
3. Hanifa Nurunnisa
4. Luluk Nindya Rizki Amanda
5. Muhammad Arie Sya’bany
6. Natalia Lois Pakasi
7. Nurul Rezeki Atika
8. Rizali Hadi
9. Sally Meirisa
10. Susanna Suryani Rimba
Group 2:
1. Anita Zulrakhmida Fajriani
2. Dinny Mutia Sari
3. Laila Indriyanti Fitria
4. Muhammad Farayunanda R
5. Muhammad Khoiri Albana
6. Rima Hayati Authari
7. Sitti Euis Syannun N
8. Veronica Fernanda
9. William Tanumihardja
10. Yessy Leonora Utari
We would like to invite you 2nd substantive selection tomorrow at 8AM. Here are the lists that you should note:
*Wear the formal outfits first.
*Bring your own cultural performance properties.
Have a big rest and be ready for tomorrow battle!
For all participants, we are proud of your well being and bravery to challenge today’s selection. We hope to see you again next year with your improvement.
SET YOUR SAIL, OPEN YOUR MIND AND EMBRACE THE JOURNEY!
Syukur kepada Tuhan, detik-detik yang menegangkan sudah berlalu disaat huruf R di angka 6 itu berdiri bersama I-M-A. “LOLOS!” kata hati saya girang. Saya minum air putih yang sudah saya siapkan sebelumnya, seperti air doa saja. Ternyata minum air sambil tersenyum lebar adalah cara minum yang kurang efektif.
Hari pertama
Map merah berisikan seperangkat formulir, foto, tulisan essay saya sendiri beserta tiupan doa saya masukkan kedalam tas bahu saya. Sekali lagi saya cek penampilan saya: Sepatu? Hitam mengkilat. Cek! Celana kerja hitam formal? Rapi. Cek!. Kemeja putih dengan kancing tinggi? Bersih. Cek! Riasan wajah minimalis? Not Bad! Cek!. Percaya diri? Maksimal. Cek!.
30 Menit waktu yang diperlukan dari rumah saya menuju tempat seleksi di gedung Pramuka. Saya hadir 30 menit lebih awal, menghindari hal-hal tak terduga yang tidak diinginkan dijalan. Orang Banjar sering sekali menghubungkan hal-hal yang spontan dengan: Ban Bocor! Kada kawa ditangguh! (Tidak bisa ditebak!). Sesampainya saya diparkiran sudah banyak peserta perempuan berpakaian tak kalah rapi dengan mulut yang bergumam sendiri. “Mungkin mereka melatih presentasi essay mereka”, saya pikir. Perlahan-lahan saya naiki tangga menuju lantai dua gedung pramuka, menghalangi siapa saja membaca suasana hati saya yang mulai tidak karuan. Beberapa wajah sudah saya kenali sekarang, ada William teman saya SMP dulu, ada Kiki yang juga ikut seleksi tahun lalu dan berhasil lolos ketahap selanjutnya walaupun gagal di tahap akhir, dan ada juga kakak kelas saya SMA yang masih berkuliah di Universitas Indonesia, dia rela kembali ke Banjarmasin dari Jakarta untuk mengikuti seleksi tahun ini.
Ada Farras dan Adam beridiri di meja pendaftaran ulang,
“Apa seluruh berkasnya dikumpul sekarang ka?” saya sengaja mengajukan pertanyaan ke Farras. Biasanya saya tidak pernah memanggilnya kakak, hanya saja kali ini dia memang menjadi “calon kakak program saya”.
“Cukup lembar pendaftaran saja, sisanya akan dibawa sendiri kedalam ruangan seleksi. Silakan ambil nomor peserta. Siapa tadi namanya? Rima ya?” kami tersenyum sesaat sebelum saya menandatangani daftar hadir.
Saya sengaja menghindari perbincangan yang terlalu panjang tidak ingin membuat peserta lain merasa kurang nyaman dengan keakraban kami yang khusus untuk hari itu sebagai peserta dan panitia. Tangan saya masih memegang nomor peserta saya yang belum saya liat. 10 langkah dari meja pendaftaran saya berdiri dan bersiap melihat angka saya. Angka yang mungkin saja akan selalu saya ingat sebagai langkah pertama dari seribu langkah saya kelak. Empat puluh dua. 4-2. Saya langsung mencari hubungan angka 42 dengan apa saja yang sudah terjadi dihidup saya. Belum ada. Baiklah. Itu artinya 42 akan menjadi salah satu nomor istimewa dari hari ini.
Masih sibuk memasang nomor peserta di dada kiri saya, Tika datang bersama beberapa peserta lainnya.
“Rim! Seleksi juga ya! Semangat semangat! Mau program apa?” Tika langsung bertanya. Dia salah satu alumni program AFS atau pertukaran pelajar yang sama dengan yang saya jalani semasa SMA, saya ke Jepang dia ke Italia. Dia menyempatkan mengikuti seleksi walaupun saya tau dia pasti sangat sibuk menjalankan pendidikan dokternya, sama seperti dua sahabat baik saya dari kecil. Tampaknya kami berdua sama-sama tertarik dengan pertukaran pemuda, dan tidak menjadi pelajar SMA lagi.
“SSEAYP nih, pas ada jatah perempuan tahun ini! Ka Tika pilih apa?” Jawabku dilengkapi pertanyaan serupa.
“Korea kayanya ni Rim, biar ga cuti”. Tika menjawab sambil menutup tasnya dan menyiapkan alat tulis.
Saya sebagai mahasiswa FISIP sudah mendapat dukungan penuh dari dekan fakultas, kepala program studi ilmu komunikasi, dan seluruh dosen. Bahkan Pa Alif dosen pembimbing saya, semangat sekali disaat saya konsultasi mengenai seleksi ini. Jika lolos nanti, cuti tidak masalah bagi saya. Selama saya bisa menuntaskan perkuliahan dalam 4 tahun, satu kali cuti tidak akan memukul mundur rencana studi. Satu hal itu yang membuat harapan semakin panjang dan jalan terasa lebih mulus.
Para panitia mempersilakan seluruh peserta untuk masuk keruangan tes dan duduk dikursi yang telah disediakan secara acak. Mengulangi apa yang saya lakukan tahun sebelumnya, saya duduk di barisan paling depan. Mengambil nafas panjang dan mulai memperhatikan sekeliling ruangan. Dipojok kiri depan ruangan ada empat alumni program 2015 termasuk Farras mengenakan seragam A1 mereka berupa jas lengkap dengan peci serta bros garuda khas masing-masing program. Pinggir kanan ruangan tes ada dewan juri serta beberapa perwakilan dari Dinas Pemuda. Musik yang didengarkan pada saat itu berusaha keras untuk membuat suasana lebih santai, walaupun tidak bisa mempengaruhi perasaan seluruh peserta yang masing-masingnya komat kamit atau memutar mutar pen yang sudah dilatih agar bisa menghasilkan essay idaman.
“Rima kan? Aku temennya Beny. Inget nggak kita ketemu pas pemilihan Puteri Kalimantan Selatan beberapa tahun lalu?”. Saya terdiam berpikir sejenak, jika ini terlalu lama saya yang merasa tak enak. Butuh lebih dari 10 detik Dede mencoba mengingatkan saya dimana kami pernah bertemu.
“Oh ka Dede! Puteri Indonesia Kal-Sel 2014 kan?” Hal pertama yang membunyikan bel ingatan saya adalah Dede dulu sempat hadir disalah satu acara Nanang Galuh dan kami beberapa kali bertemu disaat saya masih SMA dan benar saja, saat itu saya mengikuti pemilihan Puteri Kalimantan Selatan dan membawa pulang predikat “Puteri Berbakat” yang mana hal tersebut menyadarkan saya akan tinggi badan saya yang memang tidak mencukupi jika ingin menjadi pemenang. Ah. Momen-momen sebelum menjadi mahasiswa.
Kami bercerita mengenai alasan mengikuti program, kabar orang tua Dede yang dulu pernah mengisi salah satu kelas yang saya ikuti, dan tentang Beny. Dede ternyata sahabat baik Beny dimasa SMA. Banjarmasin begitu kecil, disaat kita bertemu teman lama pasti ada saja hubungannya dengan teman kita yang lainnya. Pernah suatu waktu saya lewat dipinggiran kota Banjarmasin dan sengaja berhenti untuk membeli jamur renyah yang sudah banyak diminati warga Banjarmasin. Penjualnya masih muda sekali, mungkin dua atau tiga tahun lebih tua dari saya. Dari obrolan singkat dan permintaan untuk promosi via Instagram saya mengetahui dia baru saja menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas yang sama dan memproduksi jamur sendiri hingga menjadi jajanan siap makan. Dua hari setelahnya dia mengirim pesan melalui whatsapp. Ternyata kami sepupu jauh dari saudara mama saya. Entah Banjarmasin yang bisa dikatakan kecil, atau memang pohon keluarga yang terlalu besar.
Tidak lama saya dan Dede saling bersahutan, acara sudah dimulai. Sebelum panitia memberikan kertas jawaban. Acara dimulai dengan pengukuhan alumni 2015. Semua mata peserta tidak hentinya menyimpan seluruh momen-monmen yang terjadi saat itu, masing-masingnya berharap berdiri di posisi yang sama di tahun depan. Termasuk saya. Tidak lama, proses seleksi sudah dimulai tepat pukul Sembilan pagi. Tes tertulis saya sanggupi sewajarnya dan memanfaatkan waktu hingga detik terakhir. Saatnya tes menulis essay selama 30 menit yang menjadi tantangan besar di hari ini. 30 menit akan diisi dengan kalimat-kalimat berbahsa Inggris yang akan dinilai langsung hari itu juga. Tema kali ini adalah kontribusi di masyarakat sebagai pemuda. Persiapan saya berminggu-minggu lalu saya tuangkan di kertas putih bergaris rapi. Saya sengaja megangkat kegiatan saya dan teman-teman di Polresta Banjarmasin sebagai Duta Lalu Lintas, kami memiliki agenda rutin dan sering hadir ke sekolah-sekolah untuk memberikan pengetahuan tentang berkendara yang baik dan aman atau safety riding.
Saya sudah selesai memenuhi dua halaman kertas penuh dan juga sudah mengoreksinya beberapa kali. Memastikan apakah gagasan saya sudah tersampaikan, dan apakah tulisan saya sudah sejujur-jujurnya. Saya tidak ingin nanti disaat presentasi tergagap-gagap karena essay yang ditulis tidak sesuai dengan apa yang telah dilakukan. Sama saja palsu! Tarikan nafas panjang saya jadikan penutup tanpa ada penyesalan mengenai apa yang saya tulis dan tidak saya tulis. Waktu masih tersisa sedikitnya empat menit. Dari sudut mata, saya melihat ada peserta yang menulis hanya satu paragraf, ada yang sibuk mencoret dan menulis ulang, ada juga yang sudah duduk santai dengan kertas dibalikkan seakan-akan bertuliskan dikepalanya “Beri saya yang lebih sulit dari ini”.
Semua peserta dipersilakan keluar dan menikmati makanan ringan sebelum dibabat habis saat presentasi essay. Kami menghabiskan waktu menunggu dengan saling menyemangati atau lebih tepatnya saling berbagi “Gak apa apa” dan “Tenang saja”. Tiba saatnya saya, si 42 dipanggil masuk dan mempresentasikan essay dengan bahasa Inggris. Saya memahami penuh kerangka essay saya, dan dengan membungkusnya dengan kalimat-kalimat yang menarik tapi tidak menghilangkan makna, saya berhasil membuat juri mengangguk-angguk paham, walaupun terselip sekali salah satu juri mengerutkan keningnya.
Saya kembali dipersilakan keluar dan bersiap menunggu pengumuman 40 besar. Pada titik ini lah saya dipulangkan tahun lalu. Pengumuman 40 besar perlahan-lahan dimulai. Laki-laki diselingi perempuan maju satu persatu. Raut bahagia dan suasana riuh di ruangan langsung terasa.
“Empat Puluh Dua! Rima Hayati!” salah satu alumni menyebutkan nomor dan nama saya. Saya lolos ketahap selanjutnya.
“Sudah melewati pencapaian tahun kemarin Rim! Kali ini sudah 40 besar!”. Suara hati saya mulai berbangga. Saya tersenyum lebar sambil mengangkat badan yang sedari tadi berharap untuk berada didepan.
Tika dan Dede juga lolos ke tahap selanjutnya. Tentu saja, kontribusi masyarakat mereka sudah matang, dan prestasi di bidang masing-masing sudah tidak usah ditanyakan lagi. Pada tahap 40 besar menuju 20 besar, tidak ada lagi ekspresi ragu. Hanya ada pemuda pemudi yang percaya diri bahkan lebih. Saya sangat menyukai suasana persaingan sehat seperti ini. Disaat inilah saya merasa seseorang bisa mendorong paksa dirinya menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
Kali kedua
Siang itu terasa lebih terik daripada biasanya. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik bercampur dengan mahasiswa lain sibuk dengan makan siangnya. Saya dan Adam terdiam sejenak menunggu pesanan kami datang di kantin kampus.
“Segitu sulitnya ya Dam, sampai aku gagal di tahap pertama? Tahap pertama Dam! Tes tertulis dan Essay!....”. Pertanyaan saya terputus dipotong acil yang mengantarkan es tee manis yang selalu terlalu manis. “maksud aku, apakah ada evaluasi dari pihak panitia atau alumni? Tentang seleksi kemarin?”. Adam selalu memberikan tatapan yang “penuh rahasia” walaupun nyatanya tidak begitu rahasia.
Adam adalah alumni dari Program Pertukaran Pemuda 2014 dengan tujuan negara Kanada yang bedurasi agak panjang ditambah dengan program di Indonesia. Kami sudah berteman sejak saya disibukkan dengan Ujian Nasional SMP dan dia dengan Ujian Nasional SMA. Tatapan Adam sekarang ditemani senyum tipis mengambil peran sebagai alumni dan kakak tingkat di jurusan yang sama.
“Kamu kan masih 19 tahun Rim, masih belum memenuhi syarat, coba saja lagi tahun depan, jangan terlalu bersedih begitu. Santai aja.. Cuman itu yang aku bisa sampaikan, coba lihat sisi positifnya. Kamu bisa mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi di tahun 2016 kan?”. Ada benarnya, tapi saya yakin tentu banyak yang berubah dalam 12 bulan kedepan.
“Di 2016 nanti aku sudah semester 4 menuju semester 5 Dam, pasti lebih sibuk daripada tahun ini”. Nadaku mulai turun mengarah ke kecewa.
“Rim, program ini “worth it”, lihat Farras, dia berani cuti satu semester untuk program Kapal Pemuda Asia Tenggara dan Jepang. Kamu kan bisa memilih program yang tersedia di 2016 nanti, belum tentu harus cuti kuliah.” Adam bisa membaca raut kekecawaan saya dengan apa yang terjadi dua hari lalu. Sebelum pulang dari seleksi, saya sempat berpapasan dan dia hanya tersenyum, mungkin dia tahu pembicaraan di kantin ini akan terjadi.
“Aku sudah memberikan yang terbaik di tahun ini Dam, bagaimana jika 2016 juga bukan menjadi tahunku?”
“Eh Rim, seleksi 2015 saja baru selesai, 2016 juga belum disini, tenang, persiapan, dan jangan lupa selalu positif! Masa kalah dengan pikiran sendiri!”
Saya yang banyak bicara kali ini hemat kata-kata. Pikiran saya terdiam pada apa saja yang harus saya lakukan untuk seleksi di 2016. Saya harus yakini bahwa apapun yang terjadi di 2016 nanti, saya akan selalu memberikan yang terbaik. Skor TOEFL, community development, tes tertulis, terlebih wawancara. Sejak kapan saya meragukan diri saya sendiri seperti ini? Sejak kapan saya menjadi tidak percaya diri? Saya memompa lagi semangat juang saya setelah setengah turun akibat kegagalan kemarin. Ah!
Saya jawab Adam dengan yakin “2016 Dam. 2016 tahunku!”.
Tahun 2015 menjelang 2016 saya penuhi dengan perkuliahan, membacakan berita di salah satu stasiun TV lokal, dan aktif di kegiatan pendidikan Polresta Banjarmasin sebagai salah satu Duta Lalu Lintas. Kuliah saya lancar dan sesuai dengan yang saya inginkan, ternyata menjadi Mahasiswa berprestasi pertama se-Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan peringkat ketiga se-Universitas tidak membuat saya lupa dengan keinginan saya mengikuti seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara lagi. Padahal disaat seleksi Mahasiswa Berprestasi, pendaftaran untuk selesi PPAN sudah dibuka. Saya seharusnya sudah disibukkan dengan persyaratan pendaftaran dan latihan tes tertulis maupun wawancara. Tanpa jeda, seusai tes mahasiswa berprestasi tingkat Universitas, saya langsung memenuhi persyaratan dengan semangat 55. Oktober lalu saya sudah 20 tahun, artinya usia saya sudah memenuhi syarat untuk semua program. Senang sekali rasanya disaat mengisi kolom usia dan menuliskan usia ‘dewasa’ saya. 2-0-T-A-H-U-N.
Malamnya seperti biasa diatas jam 12 malam selalu ada telepon, kali ini perbincangan agak berbeda dari biasanya.
“Mas, Ading ikut seleksi lagi tahun ini” ceritaku singkat.
“Ke Negara mana lagi? Lama ngga?” nadanya tinggi.
“Kuota jatah program belum diumumkan, ading maunya program SSEAYP”
“Dari tahun kemarin kan ading maunya memang SSEAYP kan?...” tiba-tiba dia berbicara dengan tenang. “insyaAllah, usaha dan doa yang maksimal. Lakukan yang terbaik mas doakan dari sini, 10 hari lagi mas sudah nggak pegang handphone lagi. Doakan mas juga disini.”
Beny terdengar masih sibuk menyiapkan perlengkapannya untuk memulai pendidikan komando di Batujajar, Bandung selama 7 bulan lamanya. History di pencarian Google saya pada saat itu sudah dipenuhi “Pendidikan Kopassus”, “Kopassus Indonesia”, atau “Indonesia Special Force” berharap menemukan artikel dari luar Indonesia. Semakin dalam saya mengetahui tentang “Pelatihan khusus yang nyaris melewati kemampuan batas manusia” seperti yang diungkapkan beberapa media, semakin saya bangga berbingkai kekhawatiran, takut hal-hal yang tidak diingankan dapat terjadi selama pendidikannya. Saya kenal dengan Beny Adam hanya beberapa minggu sebelum seleksi PPAN di tahun 2015 lalu. Dia yang masih bestatus sebagai taruna Akademi Militer saat itu sering memberi semangat dan saran, walaupun pendidikannya berbeda dengan yang saja jalani. Kegagalan di 2015 pun dia bahasakan dengan “Coba lagi, pasti berhasil”. Saya suka dengan ketegasannya dan caranya menyemangati: Singkat, tapi meyakinkan. Saya merasa kami sebagai anak banua asli Banjarmasin memiliki tujuan yang sama. Ingin membanggakan tanah kelahiran dan keluarga besar.
Siaran berita malam saya dimulai dari pukul 19.00 wita selesai di pukul 20.05. Saat kembali ke ruang hias saya lihat ada lima panggilan tak terjawab atas nama Beny Adam. Belum selesai saya menyentuh layar untuk membuat panggilan balik, Beny sudah menelepon lagi.
“Assalamualaikum, halo? Mas buru-buru. Kayaknya ini telepon mas yang terakhir sebelum pendidikan dimulai. Jaga diri ya, mas yakin ading pasti mendapatkan yang terbaik jika berusaha. Wassalamualaikum”. Belum habis salam saya balaskan, sudah ada perintah untuk mengumpul semua alat komunikasi.
Saya akui saya perempuan yang mudah tersentuh hatinya seperti Mama saya. Mama sering sekali meneteskan air mata disaat menonton film atau bahkan video singkat yang menyentuh hati. Mungkin inilah kemiripan saya dan Mama. Air mata itu tentu diciptakan tanpa ditugaskan jatuh dengan sengaja.
Seleksi SSEAYP 2016
Technical meeting kembali diadakan di gedung Dinas Budaya Pariwisata Pemuda dan Olahraga provinsi Kalimantan Selatan. Ruangan yang berbeda membuat saya merasa menjadi peserta ‘baru’ dan belum pernah memiliki pengalaman seperti ini sebelumnya. Semua yang hadir merupakan wajah-wajah baru. Para alumni yang menjadi peserta pun sudah siap dengan daftar yang akan segera disampaikan kepada para pemuda pemudi yang yakin dan setengah yakin mengikuti seleksi ini. Saya tidak menemukan lagi seseorang seperti Farras. Saya murni sendirian, belum menemukan teman seperjuangan. Lagipula, Farras sudah menjadi senior dan alumni program SSEAYP. Dialah yang mendukung saya untuk mengikuti seleksi di 2016 ini dengan fokus ke satu program yaitu SSEAYP.
Jatah untuk provinsi Kalimantan Selatan tahun 2016 diumumkan di hari yang sama. Saya berdoa seluruh jiwa raga agar Kalimantan Selatan mendapatkan jatah perempuan khusus untuk SSEAYP. Selama menunggu seleksi 2016 saya sudah bertanya hati ke hati bahkan jiwa ke jiwa dengan Farras bagaimana pengalaman SSEAYP. Farras seseorang yang bisa menggambarkan perasaannya dengan raut muka. Beberapa pertemuan di warung kopi pada awal Januari berhasil membuat saya jatuh cinta bahkan sebelum menjalani programnya sendiri. Farras sering mengungkapkan “Rela rim! Rela cuti demi SSEAYP! SSEAYP ini luar biasa!”. Saya jelas percaya dengan itu. Seseorang yang bisa menggambarkan kebahagiaan dari rangkaian cerita-cerita nyata sulit membuat orang lain tidak tertarik dan ingin merasakan sendiri kebahagiaan tersebut. Foto-foto selama program membuat semangat saya memuncak, terlebih foto disaat seluruh kontingen Indonesia berbaris memanjang di tangga kapal Nippon Maru, mengenakan jas, peci, Garuda, dan senyum terbaik yang mereka miliki. Itu semua hanya yang bisa dilihat dari foto, bayangkan seberapa bangganya mereka!
“Slide selanjutnya adalah kuota untuk Provinsi Kalimantan Selatan.. semua siap?” tanpa menunggu teriakan “Siap!” Ka hery yang saat itu menjabat sebagai ketua alumni atau disebut Purna Caraka Muda Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan langsung melanjutkan slide yang ditayangkan dihadapan seluruh peserta.
Indonesia Korea Youth Exchange Program: Perempuan
Indonesia China Youth Exchange Program: Laki-laki
Indonesia Malaysia Youth Exchange Program: Perempuan
Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program: Perempuan
“Alhamdulillah! Rim! Perempuan! 20 Tahun! Menari! Wawancara! Kapal! Jepang!”, suara-suara di dalam hati saya seakan berteriak kegirangan dan menyebutkan kata-kata acak yang berhubungan dengan SSEAYP. Padahal pertarungan belum juga dimulai. Reaksi peserta lain ada yang “ah..” dengan nada lesu ada juga yang berseru “Alhamdulillah!” dengan kegirangan serupa dengan kata hati saya. Setidaknya ada yang mewakili perasaan saya.
Technical meeting dilanjutkan dengan menjelaskan syarat dan tahapan tes. Syarat masih sama, usia minimum juga masih sama yaitu 20 tahun. Ha! Kekhawatiran mengenai usia sudah tidak berani menjatuhkan saya kali ini. Persyaratan tentang status belum menikah dipertanyakan oleh salah seorang peserta perempuan. “Bagaimana jika setelah lolos, ternyata sebelum berangkat program memutuskan utuk menikah?” pertanyaan itu ditanggapi peserta dengan suara menggoda “Ciyee… nikah..” lucu juga.
Ka Hery langsung menjawab dengan senyuman, “Jika seperti itu akan digantikan oleh peringkat 2 dan seterusnya sampai dengan peringkat 5. Ini termasuk tidak hanya mengenai status pernikahan, tetapi juga jika terjadi hal-hal yang membuat peserta terpilih berhalangan untuk mengikuti program”.
Selanjutnya Ka Hery menerangkan tahapan seleksi. Hari pertama dan hari kedua. Hari pertama akan kembali dilaksanakan tes tertulis, essay serta presentasi mengenai essay yang telah ditulis. Sore harinya akan segera diumumkan 40 peserta terpilih yang bisa melanjutkan ke seleksi hari pertama. Agak berbeda dari tahun sebelumnya. Kali ini seluruh peserta memiliki kesempatan untuk berbicara dan mempresentasikan essaynya di hadapan juri sebelum melanjutkan kehari kedua atau dipulanglan. Hari kedua akan diisi dengan wawancara mendalam mengenai beberapa materi, yaitu: Kepemudaan, pemberdayaan masyarakat, bahasa Inggris, psikologi, PCMI, kebudayaan dan kebangsaan. Tidak bisa dibohongi saya kembali teringat tahun lalu. Saya belum mengenal dengan tes hari kedua. Sekilas saya berpikir pasti ada dari beberapa puluh peserta disini yang juga gagal di tahun sebelumnya dan memiliki flashback yang sama. Bahkan mungkin berhasil melalui seluruh tahapan namun tidak terpilih menjadi terbaik 1. Tapi yang pasti keyakinan saya kuat tahun ini. Saya akan selesaikan semua tes yang ada!.
Hari pertama, kakak saya sengaja membangunkan saya dengan lagu banjar “Sangu Batulak” yang salah satu liriknya “Mulai awan Bismillah, batis nang kanan kulangkahakan..” “Mulai dengan Bismillah, kaki yang kanan kulangkahkan”. Dia memang begitu, bisa saja mengambil momen yang pas dalam rangka menyemangati adik satu-satunya ini.
“Do’a ding, kalo pina lulus, tulak lagi am!” (Jangan lupa berdoa, siapa tau lolos, pergi lagi!) serunya sambil bersiap untuk pergi bekerja.
“Iya ka. Mun lolos kayapalah. Pasti kehimungan hahaha!” (iya ka, kalo lolos pasti seneng banget!) jawabku tak kalah antusias.
“Tapi jangan tapi beharap! Kena sakit hati!” (Tapi jangan terlalu berharap! Nanti sakit hati!). Dia sudah terbiasa dengan adiknya yang ikut tes ini itu. Bagi dia bukan perihal baru lagi jika adiknya sibuk mengisi formulir dan melengkapi berkas-berkas yang diharuskan.
Saturday, February 4, 2017
Diantar Pulang Kebahagiaan Orang Lain (Seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara 2015)
Friday, February 3, 2017
1000 Kata Pertama
Rasanya itu seperti membuka pikiran
sendiri, disaat saya tinggal di shizuoka Jepang dan hidup bersama-sama keluarga
baru yang berbeda dalam segala hal. Belum lagi rasa yang sulit saya gambarkan
memandang Indonesia dari “luar”. Sekarang saya mengerti kenapa remaja semuda 16
tahun dikirimkan jauh ke negeri dan tanah orang lain, disuruh belajar dan
menyesuaikan diri disana. Tujuannya sebenarnya tidak jauh dari memahami diri
sendiri dan tanah air yang ditinggalkan, lebih-lebih tentang: Jati diri.
Program AFS oleh Bina Antar Budaya membuka pikiran saya dan menjadi titik ledak
dimana momen-momen emas dan benih niat untuk lebih banyak belajar untuk bangsa
sendiri justru lahir disaat saya membuka jendela kamar saya di lantai dua dan
memandang matahari terbenam di perbukitan Kamisaigou kota Kakegawa atau disaat
saya mendorong sepeda saya menuju lantai dua di parkiran stasiun tepat 7 menit
sebelum kereta saya tiba menuju sekolah. Saat itu Jepang menjadi bagian dari
keseharian saya, semua mineral dan udara Jepang sudah menjadi bagian besar
ditubuh saya. 1 tahun bukan waktu yang singkat untuk berkunjung ke negeri
orang. Anak-anak AFS sering berceloteh tentang apajadinya jika kita pulang
nanti, dari bahasa yang akan memudar perlahan sampai niatan untuk kembali ke
Jepang, dan Alhamdulillah dua hal tersebut saya dapatkan di 2016. Hahaha.. pertama,
bahasa Jepang saya yang pada awalnya lolos JLPT N3 sekarang mungkin sudah
menurun menjadi N4 atau mungkin N5, saya tidak pernah menyesal dan menyalahkan
diri sendiri untuk ini, karena saya tahu jika bahasa asing tidak dipergunakan
secara rutin, dia akan memudar dengan sendirinya, dan kita anak-anak AFS tahu
betul tentang ini. Kedua, saya berhasil kembali ke Jepang. Ya. Dalam kurun
waktu 3 tahun saya kembali menghirup udara yang sama, tapi ada yang berbeda
kali ini. Saya kembali ke Jepang, dengan kebanggaan, atas nama negara Indonesia, sempurna dengan garuda dan merah putih di dada.