Saya belum tahu harus
memulainya darimana. Tepat setahun yang lalu saya menghabiskan waktu memakan pecel lele dan ayam goreng di pojokan kota Tangerang dan sekarang
saya duduk diatas kasur saya menyilakan kaki dengan meja lipat kecil sambil mendengarkan
dua belas bunyi “teng..teng..teng..” penanda pukul dua belas malam waktu Indonesia
tengah. Mungkin ini saat yang tepat untuk mengabadikan pengalaman tak tergantikan, dan mumpung semua detailnya masih dalam sentuhan jari di kening saya.
Dihidup saya yang beranjak menuju
tahun ke dua puluh dua ini sebenarnya tidak banyak yang bisa saya ceritakan,
hanya saja ada satu bagian yang menjadi pengalaman terbaik saya dan
disempurnakan bersama orang-orang terbaik. Tidak pernah terencanakan menjadi
bagian dari “pemuda” yang hidup di “kapal” dan merasakan alunan ombak besar di sebuah
kapal yang tidak kalah besarnya, mengarungi lautan melewati seluruh negara di
Asia Tenggara dalam waktu yang tidak singkat. Satu yang saya ingin semua orang
tau adalah: Saya berlayar, bersama orang-orang terbaik.
Nama saya Rima, lengkapnya Rima
Hayati Authari, nama saya saat siaran sewaktu masih membacakan berita dulu
cukup dengan Rima Authari, karena saya rasa nama yang singkat justru lebih
mudah diingat. Saya dilahirkan dan besar di kota seribu sungai Banjarmasin pada
tahun 1995. Setelah menempuh pendidikan 12 tahun di Banjarmasin Indonesia dan 1
tahun sebagai siswi pertukaran pelajar di Jepang, saya memutuskan untuk
melanjutkan studi saya disini, di kota yang juga disebut orang kota seribu Menara. Abah dan mama saya asli kelahiran Kalimantan Selatan dan satu kakak perempuan saya yang menjadi panutan serta pemegang peran abah dan mama saya.
Setelah ditinggalkan almarhumah mama
saya di tahun 2009 karena kanker dan juga ditinggalkan abah saya karena serangan jantung Sembilan bulan setelahnya, kehidupan
saya dan kakak saya menjadi jauh lebih mandiri, walaupun memang dari kecil kami
berdua “dipaksa” menjadi perempuan kuat dalam artian yang kelak bisa disebut
wanita independen dan cerdas. Setidaknya itu yang saya ingat dari pesan
terakhir mama saya sebelum beliau pamit. Waktu itu saya masih berusia tiga
belas tahun mungkin ada beberapa detail yang terlupa, tapi tak apa. Mama bilang menjadi seorang wanita itu harus memiliki dua hal,
yaitu: cerdas dan mandiri. Dua hal itu lah yang selalu saya dan kakak saya junjung
tinggi dan anut di keseharian kami sebagai dua perempuan yatim piatu yang masih
belajar dan terkadang masih bingung dengan masa depan. Itu juga yang membuat
saya berani untuk mengikuti tes seleksi pertukaran pelajar di tahun 2011,
dari 8600 peserta saya menjadi salah satu dari 5 siswa yang diberangkatkan dan mendapatkan beasiswa dari NEXT50, menjadikan Jepang sebagai keluarga baru dan pulang dengan diri yang lebih
tenang dan terbuka dengan masa depan.
Rasanya itu seperti membuka pikiran
sendiri, disaat saya tinggal di shizuoka Jepang dan hidup bersama-sama keluarga
baru yang berbeda dalam segala hal. Belum lagi rasa yang sulit saya gambarkan
memandang Indonesia dari “luar”. Sekarang saya mengerti kenapa remaja semuda 16
tahun dikirimkan jauh ke negeri dan tanah orang lain, disuruh belajar dan
menyesuaikan diri disana. Tujuannya sebenarnya tidak jauh dari memahami diri
sendiri dan tanah air yang ditinggalkan, lebih-lebih tentang: Jati diri.
Program AFS oleh Bina Antar Budaya membuka pikiran saya dan menjadi titik ledak
dimana momen-momen emas dan benih niat untuk lebih banyak belajar untuk bangsa
sendiri justru lahir disaat saya membuka jendela kamar saya di lantai dua dan
memandang matahari terbenam di perbukitan Kamisaigou kota Kakegawa atau disaat
saya mendorong sepeda saya menuju lantai dua di parkiran stasiun tepat 7 menit
sebelum kereta saya tiba menuju sekolah. Saat itu Jepang menjadi bagian dari
keseharian saya, semua mineral dan udara Jepang sudah menjadi bagian besar
ditubuh saya. 1 tahun bukan waktu yang singkat untuk berkunjung ke negeri
orang. Anak-anak AFS sering berceloteh tentang apajadinya jika kita pulang
nanti, dari bahasa yang akan memudar perlahan sampai niatan untuk kembali ke
Jepang, dan Alhamdulillah dua hal tersebut saya dapatkan di 2016. Hahaha.. pertama,
bahasa Jepang saya yang pada awalnya lolos JLPT N3 sekarang mungkin sudah
menurun menjadi N4 atau mungkin N5, saya tidak pernah menyesal dan menyalahkan
diri sendiri untuk ini, karena saya tahu jika bahasa asing tidak dipergunakan
secara rutin, dia akan memudar dengan sendirinya, dan kita anak-anak AFS tahu
betul tentang ini. Kedua, saya berhasil kembali ke Jepang. Ya. Dalam kurun
waktu 3 tahun saya kembali menghirup udara yang sama, tapi ada yang berbeda
kali ini. Saya kembali ke Jepang, dengan kebanggaan, atas nama negara Indonesia, sempurna dengan garuda dan merah putih di dada.
Saya akan awali cerita pelayaran ini
dengan nama dari program yang saya ikuti: SSEAYP (baca: seyap). Untuk sebagian besar
orang tentu asing dengan istilah ini, tapi untuk sebagian lainnya ini adalah
ungkapan yang kata ‘istimewa’ masih kurang istimewa untuk menggambarkannya. SSEAYP
atau Ship For Southeast Asian and Japanese Youth Program adalah program kerja
sama pemerintah Jepang dan 10 negara di Asia Tenggara yang bertujuan untuk
menjalin persahabatan. Sederhana, tapi mengandung makna yang luas untuk 28
pemuda pemudi terbaik tiap negara peserta.Tidak hanya persahabatan yang terjalin tapi segala hal yang jauh lebih bermakna dan berarti, yaitu kami menjadi keluarga selama dan sesudah 52 hari membelah lautan bersama-sama.
Pertanyaan yang muncul adalah: kenapa
harus menggunakan kapal? Saya langsung teringat dengan pemaparan pertama oleh
pihak Jepang yang menyebutkan alasan kenapa moda transportasi yang dipilih
merupakan kapal pesiar. Saya sedikit memahami mengenai orang Jepang dan cara
mereka berpindah ke satu tempat ke tempat yang lainnya, mereka menikmati
perjalanan. Ayah angkat saya di Kakegawa merupakan salah satu penggemar alat
transportasi umum, terlebih kereta. Dia sering bercerita bagaimana dia merasa
lebih nyaman dan mendapatkan waktu untuk diri sendri yang lebih berkualitas
disaat menuju ke suatu tempat menggunakan kereta dibandingkan duduk menyendiri
di rumah atau café. Hal itu benar adanya, alasan kenapa SSEAYP dilaksanakan
diatas kapal adalah agar seluruh peserta memusatkan perhatiannya di satu
tempat: Kapal. Semua aktifitas, sebut saja tidur, makan, lari pagi, diskusi,
bercanda, nongkrong sampai pesta pun semuanya dilakukan di satu tempat yang
sama tanpa internet, tanpa ada kesempatan untuk berkomunikasi dengan orang yang
tidak terlibat dengan program. Perjalanan di kapal memakan waktu yang lebih
lama dan itu mengalihkan dari kesibukan dan keributan di dunia luar sana. Bisa dikatakan
perjalanan berminggu-minggu ini merupakan pelarian dari dunia luar. Oleh karena
itu sering muncul istilah SSEAYP dream, SSEAYP sick, bahkan sampai SSEAYP love.
Kapal ini, atau saya sebut saja rumah kami ini bernama Nippon Maru.
Ringan sekali tulisannya menggerakan mata utk terus membaca hingga akhir ..
ReplyDelete