Saturday, February 4, 2017

Diantar Pulang Kebahagiaan Orang Lain (Seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara 2015)



Saya tidak sesemangat dan seoptimis saat mengikuti seleksi AFS di seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara di tahun 2015. Ada suara-suara dari luar sana yang berbunyi: jika sudah pernah memiliki pengalaman menjadi siswa pertukaran, maka kesempatan untuk kembali menjadi peserta lebih kecil dibandingkan yang belum pernah sama sekali. Tapi tetap saja, saat itu saya yang masih semester 3 diperkuliahan jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Lambung Mangkurat mendaftarkan diri.  Saya sebenarnya mendapatkan informasi dan cerita-cerita luar biasa yang memotivasi untuk mengikuti seleksi dari salah satu sahabat saya, perwakilan Kalimantan Selatan di program pertukaran pemuda Indonesia dan Kanada. Program ini mirip dengan yang diceritakan oleh Ahmad Fuadi dalam novelnya Ranah Tiga Warna. Satu-satunya novel yang bisa saya selipkan di koper saya saat saya berangkat untuk tinggal di Kakegawa. Tentulah pada saat itu saya tidak menyangka bahwa di daerah saya sendiri pun ada kesempatan terbuka untuk menjadi perwakilan Indonesia di luar sana.
Masih jelas sekali diingatan saat saya mengantre untuk mencetak formulir pendaftaran di salah satu warung komputer dekat kampus. Saat itu saya mendengar satu suara di benak saya “Rim, bujurankah handak umpat seleksi? Maka umur aja balum 20 tahun, kawa aja lah?” “Rim, beneran mau ikut seleksi? Usia aja belum 20 tahun, yakin bisa?” dijawab oleh suara lainnya “mun lulus seleksi, tulaknya lawas jua lagi, sawat ay bisa nih! Ayja gawi ja dulu!” “kalo pun lolos seleksi, keberangkatan juga masih lama kan? Sempet kok! Kerjain aja dulu!”. Satu hal disini yang belum saya sebutkan diawal, yaitu semua program memiliki syarat minimum usia 20 tahun untuk program di tahun 2015 Kalimantan Selatan. Saya sebagai kelahiran 1995 nekat saja ikut-ikutan mendaftar dengan modal “siapa tau lolos”. Untuk mengisi formulir pendaftarannya saja saya mencoba memutar otak untuk mengisi bagian essai agar hasilnya cantik, jujur dan berisi.  
Technical meeting diadakan di gedung Dinas Budaya Pariwisata Pemuda dan Olahraga provinsi Kalimantan Selatan yang sudah tidak asing lagi karena sewaktu masih menjadi Galuh Kalimantan Selatan (Duta Wisata) di tahun 2014 banyak kegiatan sebelum, selama dan sesudah pemilihan dilaksanakan di gedung yang sama. Ruangan yang memiliki meja besar oval, kursi empuk bersandaran dan kesan dinginnya masih bisa saya bayangkan dan rasakan. Tidak sia-sia saya mengenakan pakaian formal untuk hadir disaat saya menyadari seberapa “serius” semua peserta yang hadir. Wajah-wajah optimis dan kepala-kepala berisi mereka entah bagaimana bisa terpancar dari senyum simpul masing-masing peserta. “Wah.. orang-orang hebatlah ini” saya pikir, sayalah yang paling muda diruangan sebelum saya melihat ada teman lama saya masuk dan menyapa dengan anggukan dari depan pintu ruangan. Sengaja satu kursi saya kosongkan.
“Farras! Lawasnya kada betamuan!” “Farras! Lama banget kita nggak ketemu!”.
“Umpat jua kah Rim? Beibaian lah!” “Kamu ikutan juga Rim? Bareng-bareng ya!”
Farras adalah teman semasa saya masih di bangku SMP dulu, walaupun kami tidak bersekolah di SMP yang sama, tapi dari berbagai kegiatan kami saling kenal. Dia kuliah di Universitas Airlangga jurusan Hubungan Internasional dan sudah di semesternya yang ke-5, dan kami sama-sama kelahiran 1995 hanya berbeda beberapa bulan saja. Dia sengaja memilih program SSEAYP dan sudah berucap rela cuti kuliah untuk petualangan baru ini. Saya saat itu masih berputar-putar memikirkan program mana yang saya minati dan bisa saya coba. Tidak hanya melihat dari batas usia, tetapi juga jatah laki-laki atau perempuan di tiap program untuk provinsi Kalimantan Selatan. Hari itu masih belum di umumkan program mana yang menyediakan kesempatan untuk laki-laki atau perempuan, jadi seluruh peserta masih diperbolehkan menandai semua kolom pilihan program pertukaran pemuda. Saya. Tandai. Semua.
Technical meeting berjalan sebagaimana mestinya, jika saya melihat peserta dengan ekspresi “Wah.. orang-orang hebatlah ini”, saat saya melihat para alumni program “Wah.. Kali ini orang-orang yang lebih-lebihlah hebatnya”. Waktu itu saya ingin sekali kelak menjadi salah satu alumni yang berdiri didepan sana, memaparkan mengenai program pertukaran pemuda, bercerita sedikit pengalaman pribadi dan menaikkan semangat calon peserta. Membanggakan!. Seleksi dibagi menjadi dua tahap dengan sistem gugur. Pada hari pertama dilaksanakan tes tertulis pengetahuan umum dan essai dan akan dipilih 20 laki-laki dan 20 perepuan terbaik. Jika berhasil melalui tahap ini akan dilanjutkan dengan wawancara yang mendalam dan tampil bakat. Tidak ada salahnya optimis dengan diri sendiri, saya sangat menantikan tahap wawancara seakan-akan saya pasti lolos di hari pertama.
Kemeja putih, rok hitam, sepatu hitam, rambut dicepol rapi dan saya siap menghadapi seleksi hari pertama. Gedung Pramuka memang selalu menjadi “rumah seleksi” untuk calon peserta Pertukaran Pemuda Antar Negara Kalimantan Selatan dari tahun ke tahun. Kembali bertemu dengan seluruh peserta, saya lewati sebaris demi sebaris kursi, menargetkan kursi terdepan. Farras hadir beberapa menit setelah saya dan sesuai janji kami duduk bersebelahan sambil mendiskusikan hal-hal yang tidak berkaitan dengan seleksi. Cukup dengan tekanan peserta lain, kami mencoba menyamankan mental dengan saling bercerita tentang hal-hal ringan saja.
Sebelum seleksi tertulis dimulai, salah satu alumni mengumumkan program apa saja yang bisa diikuti calon peserta laki-laki, dan calon peserta perempuan. Untuk laki-laki bisa mendaftar Program ke Australia dan SSEAYP untuk Kalimantan Selatan juga mendapatkan jatah laki-laki, sesuai dengan keinginan Farras. Calon peserta perempuan, bisa mendaftar dalam program Kanada dan Tiongkok. Tetap, saya. Tandai. Semua.
Kertas soal dan jawaban mulai dibagikan, doa saya dan Farras sudah dikirimkan, dan kami siap untuk memberikan jawaban dan kalimat-kalimat terbaik di bagian essai. Semuanya terasa singkat, waktu terasa terlalu sempit untuk memberikan jawaban yang lebih meyakinkan. “Rim, rapikan tulisannya! Cek lagi ejaannya! Jangan mbari supan!” saya heran, suara-suara di benak ini perfectionist sekali!. Tapi tetap, keoptimisan kami berdua masih di langit-langit ruangan. Kadang kami berdua cekikikan sendiri dengan cerita-cerita lama sebagai pelarian kekhawatiran jawaban-jawaban yang sudah terlanjur kami tulis. Tidak lama waktu yang dibutuhkan juri untuk menilai seluruh jawaban essai peserta, yang kami tahu pasti, tidak kurang dari satu jam, pengumuman sudah siap merontokkan seluruh peserta kecuali 40 terbaik.
Satu alumni maju kedepan, tangannya penuh dengan masing-masih kertas dan mic, ekspresinya santai dan menyenangkan. “Baik, setelah penilaian dari juri, di tangan saya sudah tercantum masing-masing 20 nama untuk laki-laki dan perempuan dan ingin saya tekankan bagi teman-teman dan adik-adik yang belum berhasil pada hari ini bukan berarti kalian gagal, ini hanyalah awal dari langkah besar kalian. 40 nama ini adalah 40 nama yang memenuhi seluruh persyaratan dan memiliki nilai teratas. Baik. Langsung saja, 40 peserta yang berhak maju ke babak selanjutnya, yang pertama dengan nomor urut 0-3!”. Satu persatu nomor peserta sekaligus nama disebutkan dan dengan ekspresi paling bahagia dan rasa tak percaya, masing-masing maju dihantarkan dengan tepuk tangan dari ratusan peserta lainnya. Saya menaruh harapan banyak disini, begitu pula dengan Farras. Kami yang duduk di barisan paling depan seakan dapat merasakan juga kebahagiaan peserta-peserta yang perlahan-lahan memenuhi panggung ruangan. Tiba saatnya nama Farras lantang terdengar. “Farras! Alhamdulillah!”, saya rasa saya yang berteriak paling nyaring saat itu. Teman seperjuangan saya sudah memasuki zona hijau dan siap melaju ke tahap selanjutnya. Masih menunggu nomor peserta dan nama saya disebutkan, sedangkan di panggung sudah berdiri 17 peserta perempuan. Seketika itu muncul pikiran-pikiran tentang jawaban dan essai saya, sampai hitung-hitungan usia saya sendiri yang masih 19 tahun sebelum Oktober. Apakah saya tidak termasuk di 40 besar? Jawabannya tidak perlu ditunggu lama sejak saya mulai berhitung.
Saya merasa masih nyaman duduk di kursi terdepan saya hari itu, menyaksikan 40 peserta terbaik berdiri di depan saya dan mendengarkan kalimat penutup dari alumni yang mempersilakan peserta yang belum berhasil untuk kembali pulang. Seperti yang saya rasakan sebelumnya: seakan-akan saya bisa merasakan kebahagiaan mereka. Mungkin cipratan kebahagiaan itu yang menggandeng saya turun dari gedung pramuka, menuju kendaraan saya dan pulang ke rumah dengan hati yang ringan-ringan saja: Masih ada tahun depan di 2016.
NB: Farras lolos ketahap-tahap selanjutnya dan akhirnya menjadi delegasi Kalimantan-Selatan dalam program SSEAYP 42 di tahun 2015.

Friday, February 3, 2017

1000 Kata Pertama



Saya belum tahu harus memulainya darimana. Tepat setahun yang lalu saya menghabiskan waktu memakan pecel lele dan ayam goreng di pojokan kota Tangerang dan sekarang saya duduk diatas kasur saya menyilakan kaki dengan meja lipat kecil sambil mendengarkan dua belas bunyi “teng..teng..teng..” penanda pukul dua belas malam waktu Indonesia tengah. Mungkin ini saat yang tepat untuk mengabadikan pengalaman tak tergantikan, dan mumpung semua detailnya masih dalam sentuhan jari di kening saya.
Dihidup saya yang beranjak menuju tahun ke dua puluh dua ini sebenarnya tidak banyak yang bisa saya ceritakan, hanya saja ada satu bagian yang menjadi pengalaman terbaik saya dan disempurnakan bersama orang-orang terbaik. Tidak pernah terencanakan menjadi bagian dari “pemuda” yang hidup di “kapal” dan merasakan alunan ombak besar di sebuah kapal yang tidak kalah besarnya, mengarungi lautan melewati seluruh negara di Asia Tenggara dalam waktu yang tidak singkat. Satu yang saya ingin semua orang tau adalah: Saya berlayar, bersama orang-orang terbaik.
Nama saya Rima, lengkapnya Rima Hayati Authari, nama saya saat siaran sewaktu masih membacakan berita dulu cukup dengan Rima Authari, karena saya rasa nama yang singkat justru lebih mudah diingat. Saya dilahirkan dan besar di kota seribu sungai Banjarmasin pada tahun 1995. Setelah menempuh pendidikan 12 tahun di Banjarmasin Indonesia dan 1 tahun sebagai siswi pertukaran pelajar di Jepang, saya memutuskan untuk melanjutkan studi saya disini, di kota yang juga disebut orang kota seribu Menara. Abah dan mama saya asli kelahiran Kalimantan Selatan dan satu kakak perempuan saya yang menjadi panutan serta pemegang peran abah dan mama saya.
Setelah ditinggalkan almarhumah mama saya di tahun 2009 karena kanker dan juga ditinggalkan abah saya karena serangan jantung Sembilan bulan setelahnya, kehidupan saya dan kakak saya menjadi jauh lebih mandiri, walaupun memang dari kecil kami berdua “dipaksa” menjadi perempuan kuat dalam artian yang kelak bisa disebut wanita independen dan cerdas. Setidaknya itu yang saya ingat dari pesan terakhir mama saya sebelum beliau pamit. Waktu itu saya masih berusia tiga belas tahun mungkin ada beberapa detail yang terlupa, tapi tak apa. Mama bilang menjadi seorang wanita itu harus memiliki dua hal, yaitu: cerdas dan mandiri. Dua hal itu lah yang selalu saya dan kakak saya junjung tinggi dan anut di keseharian kami sebagai dua perempuan yatim piatu yang masih belajar dan terkadang masih bingung dengan masa depan. Itu juga yang membuat saya berani untuk mengikuti tes seleksi pertukaran pelajar di tahun 2011, dari 8600 peserta saya menjadi salah satu dari 5 siswa yang diberangkatkan dan mendapatkan beasiswa dari NEXT50, menjadikan Jepang sebagai keluarga baru dan pulang dengan diri yang lebih tenang dan terbuka dengan masa depan.
Rasanya itu seperti membuka pikiran sendiri, disaat saya tinggal di shizuoka Jepang dan hidup bersama-sama keluarga baru yang berbeda dalam segala hal. Belum lagi rasa yang sulit saya gambarkan memandang Indonesia dari “luar”. Sekarang saya mengerti kenapa remaja semuda 16 tahun dikirimkan jauh ke negeri dan tanah orang lain, disuruh belajar dan menyesuaikan diri disana. Tujuannya sebenarnya tidak jauh dari memahami diri sendiri dan tanah air yang ditinggalkan, lebih-lebih tentang: Jati diri. Program AFS oleh Bina Antar Budaya membuka pikiran saya dan menjadi titik ledak dimana momen-momen emas dan benih niat untuk lebih banyak belajar untuk bangsa sendiri justru lahir disaat saya membuka jendela kamar saya di lantai dua dan memandang matahari terbenam di perbukitan Kamisaigou kota Kakegawa atau disaat saya mendorong sepeda saya menuju lantai dua di parkiran stasiun tepat 7 menit sebelum kereta saya tiba menuju sekolah. Saat itu Jepang menjadi bagian dari keseharian saya, semua mineral dan udara Jepang sudah menjadi bagian besar ditubuh saya. 1 tahun bukan waktu yang singkat untuk berkunjung ke negeri orang. Anak-anak AFS sering berceloteh tentang apajadinya jika kita pulang nanti, dari bahasa yang akan memudar perlahan sampai niatan untuk kembali ke Jepang, dan Alhamdulillah dua hal tersebut saya dapatkan di 2016. Hahaha.. pertama, bahasa Jepang saya yang pada awalnya lolos JLPT N3 sekarang mungkin sudah menurun menjadi N4 atau mungkin N5, saya tidak pernah menyesal dan menyalahkan diri sendiri untuk ini, karena saya tahu jika bahasa asing tidak dipergunakan secara rutin, dia akan memudar dengan sendirinya, dan kita anak-anak AFS tahu betul tentang ini. Kedua, saya berhasil kembali ke Jepang. Ya. Dalam kurun waktu 3 tahun saya kembali menghirup udara yang sama, tapi ada yang berbeda kali ini. Saya kembali ke Jepang, dengan kebanggaan, atas nama negara Indonesia, sempurna dengan garuda dan merah putih di dada.



Saya akan awali cerita pelayaran ini dengan nama dari program yang saya ikuti: SSEAYP (baca: seyap). Untuk sebagian besar orang tentu asing dengan istilah ini, tapi untuk sebagian lainnya ini adalah ungkapan yang kata ‘istimewa’ masih kurang istimewa untuk menggambarkannya. SSEAYP atau Ship For Southeast Asian and Japanese Youth Program adalah program kerja sama pemerintah Jepang dan 10 negara di Asia Tenggara yang bertujuan untuk menjalin persahabatan. Sederhana, tapi mengandung makna yang luas untuk 28 pemuda pemudi terbaik tiap negara peserta.Tidak hanya persahabatan yang terjalin tapi segala hal yang jauh lebih bermakna dan berarti, yaitu kami menjadi keluarga selama dan sesudah 52 hari membelah lautan bersama-sama.
Pertanyaan yang muncul adalah: kenapa harus menggunakan kapal? Saya langsung teringat dengan pemaparan pertama oleh pihak Jepang yang menyebutkan alasan kenapa moda transportasi yang dipilih merupakan kapal pesiar. Saya sedikit memahami mengenai orang Jepang dan cara mereka berpindah ke satu tempat ke tempat yang lainnya, mereka menikmati perjalanan. Ayah angkat saya di Kakegawa merupakan salah satu penggemar alat transportasi umum, terlebih kereta. Dia sering bercerita bagaimana dia merasa lebih nyaman dan mendapatkan waktu untuk diri sendri yang lebih berkualitas disaat menuju ke suatu tempat menggunakan kereta dibandingkan duduk menyendiri di rumah atau café. Hal itu benar adanya, alasan kenapa SSEAYP dilaksanakan diatas kapal adalah agar seluruh peserta memusatkan perhatiannya di satu tempat: Kapal. Semua aktifitas, sebut saja tidur, makan, lari pagi, diskusi, bercanda, nongkrong sampai pesta pun semuanya dilakukan di satu tempat yang sama tanpa internet, tanpa ada kesempatan untuk berkomunikasi dengan orang yang tidak terlibat dengan program. Perjalanan di kapal memakan waktu yang lebih lama dan itu mengalihkan dari kesibukan dan keributan di dunia luar sana. Bisa dikatakan perjalanan berminggu-minggu ini merupakan pelarian dari dunia luar. Oleh karena itu sering muncul istilah SSEAYP dream, SSEAYP sick, bahkan sampai SSEAYP love. Kapal ini, atau saya sebut saja rumah kami ini bernama Nippon Maru.