Saya tidak sesemangat dan seoptimis saat mengikuti seleksi AFS di
seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara di tahun 2015. Ada suara-suara dari luar
sana yang berbunyi: jika sudah pernah memiliki pengalaman menjadi siswa
pertukaran, maka kesempatan untuk kembali menjadi peserta lebih kecil
dibandingkan yang belum pernah sama sekali. Tapi tetap saja, saat itu saya yang
masih semester 3 diperkuliahan jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Lambung
Mangkurat mendaftarkan diri. Saya sebenarnya
mendapatkan informasi dan cerita-cerita luar biasa yang memotivasi untuk
mengikuti seleksi dari salah satu sahabat saya, perwakilan Kalimantan Selatan
di program pertukaran pemuda Indonesia dan Kanada. Program ini mirip dengan yang
diceritakan oleh Ahmad Fuadi dalam novelnya Ranah Tiga Warna. Satu-satunya
novel yang bisa saya selipkan di koper saya saat saya berangkat untuk tinggal
di Kakegawa. Tentulah pada saat itu saya tidak menyangka bahwa di daerah saya
sendiri pun ada kesempatan terbuka untuk menjadi perwakilan Indonesia di luar
sana.
Masih jelas sekali diingatan saat saya mengantre untuk mencetak
formulir pendaftaran di salah satu warung komputer dekat kampus. Saat itu saya mendengar
satu suara di benak saya “Rim, bujurankah
handak umpat seleksi? Maka umur aja balum 20 tahun, kawa aja lah?” “Rim,
beneran mau ikut seleksi? Usia aja belum 20 tahun, yakin bisa?” dijawab oleh
suara lainnya “mun lulus seleksi,
tulaknya lawas jua lagi, sawat ay bisa nih! Ayja gawi ja dulu!” “kalo pun
lolos seleksi, keberangkatan juga masih lama kan? Sempet kok! Kerjain aja dulu!”.
Satu hal disini yang belum saya sebutkan diawal, yaitu semua program memiliki
syarat minimum usia 20 tahun untuk program di tahun 2015 Kalimantan Selatan. Saya
sebagai kelahiran 1995 nekat saja ikut-ikutan mendaftar dengan modal “siapa tau
lolos”. Untuk mengisi formulir pendaftarannya saja saya mencoba memutar otak
untuk mengisi bagian essai agar hasilnya cantik, jujur dan berisi.
Technical meeting diadakan di gedung Dinas Budaya Pariwisata Pemuda
dan Olahraga provinsi Kalimantan Selatan yang sudah tidak asing lagi karena
sewaktu masih menjadi Galuh Kalimantan Selatan (Duta Wisata) di tahun 2014
banyak kegiatan sebelum, selama dan sesudah pemilihan dilaksanakan di gedung yang
sama. Ruangan yang memiliki meja besar oval, kursi empuk bersandaran dan kesan
dinginnya masih bisa saya bayangkan dan rasakan. Tidak sia-sia saya mengenakan
pakaian formal untuk hadir disaat saya menyadari seberapa “serius” semua
peserta yang hadir. Wajah-wajah optimis dan kepala-kepala berisi mereka entah
bagaimana bisa terpancar dari senyum simpul masing-masing peserta. “Wah..
orang-orang hebatlah ini” saya pikir, sayalah yang paling muda diruangan sebelum
saya melihat ada teman lama saya masuk dan menyapa dengan anggukan dari depan
pintu ruangan. Sengaja satu kursi saya kosongkan.
“Farras! Lawasnya kada betamuan!” “Farras! Lama banget kita nggak ketemu!”.
“Umpat jua kah Rim? Beibaian lah!” “Kamu ikutan juga Rim? Bareng-bareng
ya!”
Farras adalah teman semasa saya masih di bangku SMP dulu, walaupun
kami tidak bersekolah di SMP yang sama, tapi dari berbagai kegiatan kami saling
kenal. Dia kuliah di Universitas Airlangga jurusan Hubungan Internasional dan
sudah di semesternya yang ke-5, dan kami sama-sama kelahiran 1995 hanya berbeda
beberapa bulan saja. Dia sengaja memilih program SSEAYP dan sudah berucap rela
cuti kuliah untuk petualangan baru ini. Saya saat itu masih berputar-putar
memikirkan program mana yang saya minati dan bisa saya coba. Tidak hanya
melihat dari batas usia, tetapi juga jatah laki-laki atau perempuan di tiap
program untuk provinsi Kalimantan Selatan. Hari itu masih belum di umumkan
program mana yang menyediakan kesempatan untuk laki-laki atau perempuan, jadi
seluruh peserta masih diperbolehkan menandai semua kolom pilihan program
pertukaran pemuda. Saya. Tandai. Semua.
Technical meeting berjalan sebagaimana mestinya, jika saya melihat
peserta dengan ekspresi “Wah..
orang-orang hebatlah ini”, saat saya melihat para alumni program “Wah.. Kali
ini orang-orang yang lebih-lebihlah hebatnya”. Waktu itu saya ingin sekali
kelak menjadi salah satu alumni yang berdiri didepan sana, memaparkan mengenai
program pertukaran pemuda, bercerita sedikit pengalaman pribadi dan menaikkan
semangat calon peserta. Membanggakan!. Seleksi dibagi menjadi dua tahap dengan
sistem gugur. Pada hari pertama dilaksanakan tes tertulis pengetahuan umum dan
essai dan akan dipilih 20 laki-laki dan 20 perepuan terbaik. Jika berhasil
melalui tahap ini akan dilanjutkan dengan wawancara yang mendalam dan tampil
bakat. Tidak ada salahnya optimis dengan diri sendiri, saya sangat menantikan
tahap wawancara seakan-akan saya pasti lolos di hari pertama.
Kemeja putih, rok hitam, sepatu
hitam, rambut dicepol rapi dan saya siap menghadapi seleksi hari pertama. Gedung
Pramuka memang selalu menjadi “rumah seleksi” untuk calon peserta Pertukaran
Pemuda Antar Negara Kalimantan Selatan dari tahun ke tahun. Kembali bertemu
dengan seluruh peserta, saya lewati sebaris demi sebaris kursi, menargetkan
kursi terdepan. Farras hadir beberapa menit setelah saya dan sesuai janji kami
duduk bersebelahan sambil mendiskusikan hal-hal yang tidak berkaitan dengan
seleksi. Cukup dengan tekanan peserta lain, kami mencoba menyamankan mental
dengan saling bercerita tentang hal-hal ringan saja.
Sebelum seleksi tertulis dimulai,
salah satu alumni mengumumkan program apa saja yang bisa diikuti calon peserta
laki-laki, dan calon peserta perempuan. Untuk laki-laki bisa mendaftar Program ke
Australia dan SSEAYP untuk Kalimantan Selatan juga mendapatkan jatah laki-laki,
sesuai dengan keinginan Farras. Calon peserta perempuan, bisa mendaftar dalam
program Kanada dan Tiongkok. Tetap, saya. Tandai. Semua.
Kertas soal dan jawaban mulai
dibagikan, doa saya dan Farras sudah dikirimkan, dan kami siap untuk memberikan
jawaban dan kalimat-kalimat terbaik di bagian essai. Semuanya terasa singkat,
waktu terasa terlalu sempit untuk memberikan jawaban yang lebih meyakinkan. “Rim,
rapikan tulisannya! Cek lagi ejaannya! Jangan mbari supan!” saya heran, suara-suara di benak ini perfectionist sekali!. Tapi tetap, keoptimisan kami berdua
masih di langit-langit ruangan. Kadang kami berdua cekikikan sendiri dengan cerita-cerita
lama sebagai pelarian kekhawatiran jawaban-jawaban yang sudah terlanjur kami
tulis. Tidak lama waktu yang dibutuhkan juri untuk menilai seluruh jawaban
essai peserta, yang kami tahu pasti, tidak kurang dari satu jam, pengumuman
sudah siap merontokkan seluruh peserta kecuali 40 terbaik.
Satu alumni maju kedepan, tangannya
penuh dengan masing-masih kertas dan mic, ekspresinya santai dan menyenangkan. “Baik,
setelah penilaian dari juri, di tangan saya sudah tercantum masing-masing 20
nama untuk laki-laki dan perempuan dan ingin saya tekankan bagi teman-teman dan
adik-adik yang belum berhasil pada hari ini bukan berarti kalian gagal, ini
hanyalah awal dari langkah besar kalian. 40 nama ini adalah 40 nama yang
memenuhi seluruh persyaratan dan memiliki nilai teratas. Baik. Langsung saja, 40
peserta yang berhak maju ke babak selanjutnya, yang pertama dengan nomor urut
0-3!”. Satu persatu nomor peserta sekaligus nama disebutkan dan dengan ekspresi
paling bahagia dan rasa tak percaya, masing-masing maju dihantarkan dengan
tepuk tangan dari ratusan peserta lainnya. Saya menaruh harapan banyak disini,
begitu pula dengan Farras. Kami yang duduk di barisan paling depan seakan dapat
merasakan juga kebahagiaan peserta-peserta yang perlahan-lahan memenuhi
panggung ruangan. Tiba saatnya nama Farras lantang terdengar. “Farras! Alhamdulillah!”,
saya rasa saya yang berteriak paling nyaring saat itu. Teman seperjuangan saya
sudah memasuki zona hijau dan siap melaju ke tahap selanjutnya. Masih menunggu
nomor peserta dan nama saya disebutkan, sedangkan di panggung sudah berdiri 17
peserta perempuan. Seketika itu muncul pikiran-pikiran tentang jawaban dan
essai saya, sampai hitung-hitungan usia saya sendiri yang masih 19 tahun
sebelum Oktober. Apakah saya tidak termasuk di 40 besar? Jawabannya tidak perlu
ditunggu lama sejak saya mulai berhitung.
Saya merasa masih nyaman duduk di
kursi terdepan saya hari itu, menyaksikan 40 peserta terbaik berdiri di depan
saya dan mendengarkan kalimat penutup dari alumni yang mempersilakan peserta
yang belum berhasil untuk kembali pulang. Seperti yang saya rasakan sebelumnya:
seakan-akan saya bisa merasakan kebahagiaan mereka. Mungkin cipratan
kebahagiaan itu yang menggandeng saya turun dari gedung pramuka, menuju kendaraan saya dan pulang ke rumah
dengan hati yang ringan-ringan saja: Masih ada tahun depan di 2016.
NB: Farras lolos ketahap-tahap selanjutnya dan akhirnya
menjadi delegasi Kalimantan-Selatan dalam program SSEAYP 42 di tahun 2015.
No comments:
Post a Comment