Siang itu terasa lebih terik daripada biasanya. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik bercampur dengan mahasiswa lain sibuk dengan makan siangnya. Saya dan Adam terdiam sejenak menunggu pesanan kami datang di kantin kampus.
“Segitu sulitnya ya Dam, sampai aku gagal di tahap pertama? Tahap pertama Dam! Tes tertulis dan Essay!....”. Pertanyaan saya terputus dipotong acil yang mengantarkan es tee manis yang selalu terlalu manis. “maksud aku, apakah ada evaluasi dari pihak panitia atau alumni? Tentang seleksi kemarin?”. Adam selalu memberikan tatapan yang “penuh rahasia” walaupun nyatanya tidak begitu rahasia.
Adam adalah alumni dari Program Pertukaran Pemuda 2014 dengan tujuan negara Kanada yang bedurasi agak panjang ditambah dengan program di Indonesia. Kami sudah berteman sejak saya disibukkan dengan Ujian Nasional SMP dan dia dengan Ujian Nasional SMA. Tatapan Adam sekarang ditemani senyum tipis mengambil peran sebagai alumni dan kakak tingkat di jurusan yang sama.
“Kamu kan masih 19 tahun Rim, masih belum memenuhi syarat, coba saja lagi tahun depan, jangan terlalu bersedih begitu. Santai aja.. Cuman itu yang aku bisa sampaikan, coba lihat sisi positifnya. Kamu bisa mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi di tahun 2016 kan?”. Ada benarnya, tapi saya yakin tentu banyak yang berubah dalam 12 bulan kedepan.
“Di 2016 nanti aku sudah semester 4 menuju semester 5 Dam, pasti lebih sibuk daripada tahun ini”. Nadaku mulai turun mengarah ke kecewa.
“Rim, program ini “worth it”, lihat Farras, dia berani cuti satu semester untuk program Kapal Pemuda Asia Tenggara dan Jepang. Kamu kan bisa memilih program yang tersedia di 2016 nanti, belum tentu harus cuti kuliah.” Adam bisa membaca raut kekecawaan saya dengan apa yang terjadi dua hari lalu. Sebelum pulang dari seleksi, saya sempat berpapasan dan dia hanya tersenyum, mungkin dia tahu pembicaraan di kantin ini akan terjadi.
“Aku sudah memberikan yang terbaik di tahun ini Dam, bagaimana jika 2016 juga bukan menjadi tahunku?”
“Eh Rim, seleksi 2015 saja baru selesai, 2016 juga belum disini, tenang, persiapan, dan jangan lupa selalu positif! Masa kalah dengan pikiran sendiri!”
Saya yang banyak bicara kali ini hemat kata-kata. Pikiran saya terdiam pada apa saja yang harus saya lakukan untuk seleksi di 2016. Saya harus yakini bahwa apapun yang terjadi di 2016 nanti, saya akan selalu memberikan yang terbaik. Skor TOEFL, community development, tes tertulis, terlebih wawancara. Sejak kapan saya meragukan diri saya sendiri seperti ini? Sejak kapan saya menjadi tidak percaya diri? Saya memompa lagi semangat juang saya setelah setengah turun akibat kegagalan kemarin. Ah!
Saya jawab Adam dengan yakin “2016 Dam. 2016 tahunku!”.
Tahun 2015 menjelang 2016 saya penuhi dengan perkuliahan, membacakan berita di salah satu stasiun TV lokal, dan aktif di kegiatan pendidikan Polresta Banjarmasin sebagai salah satu Duta Lalu Lintas. Kuliah saya lancar dan sesuai dengan yang saya inginkan, ternyata menjadi Mahasiswa berprestasi pertama se-Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan peringkat ketiga se-Universitas tidak membuat saya lupa dengan keinginan saya mengikuti seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara lagi. Padahal disaat seleksi Mahasiswa Berprestasi, pendaftaran untuk selesi PPAN sudah dibuka. Saya seharusnya sudah disibukkan dengan persyaratan pendaftaran dan latihan tes tertulis maupun wawancara. Tanpa jeda, seusai tes mahasiswa berprestasi tingkat Universitas, saya langsung memenuhi persyaratan dengan semangat 55. Oktober lalu saya sudah 20 tahun, artinya usia saya sudah memenuhi syarat untuk semua program. Senang sekali rasanya disaat mengisi kolom usia dan menuliskan usia ‘dewasa’ saya. 2-0-T-A-H-U-N.
Malamnya seperti biasa diatas jam 12 malam selalu ada telepon, kali ini perbincangan agak berbeda dari biasanya.
“Mas, Ading ikut seleksi lagi tahun ini” ceritaku singkat.
“Ke Negara mana lagi? Lama ngga?” nadanya tinggi.
“Kuota jatah program belum diumumkan, ading maunya program SSEAYP”
“Dari tahun kemarin kan ading maunya memang SSEAYP kan?...” tiba-tiba dia berbicara dengan tenang. “insyaAllah, usaha dan doa yang maksimal. Lakukan yang terbaik mas doakan dari sini, 10 hari lagi mas sudah nggak pegang handphone lagi. Doakan mas juga disini.”
Beny terdengar masih sibuk menyiapkan perlengkapannya untuk memulai pendidikan komando di Batujajar, Bandung selama 7 bulan lamanya. History di pencarian Google saya pada saat itu sudah dipenuhi “Pendidikan Kopassus”, “Kopassus Indonesia”, atau “Indonesia Special Force” berharap menemukan artikel dari luar Indonesia. Semakin dalam saya mengetahui tentang “Pelatihan khusus yang nyaris melewati kemampuan batas manusia” seperti yang diungkapkan beberapa media, semakin saya bangga berbingkai kekhawatiran, takut hal-hal yang tidak diingankan dapat terjadi selama pendidikannya. Saya kenal dengan Beny Adam hanya beberapa minggu sebelum seleksi PPAN di tahun 2015 lalu. Dia yang masih bestatus sebagai taruna Akademi Militer saat itu sering memberi semangat dan saran, walaupun pendidikannya berbeda dengan yang saja jalani. Kegagalan di 2015 pun dia bahasakan dengan “Coba lagi, pasti berhasil”. Saya suka dengan ketegasannya dan caranya menyemangati: Singkat, tapi meyakinkan. Saya merasa kami sebagai anak banua asli Banjarmasin memiliki tujuan yang sama. Ingin membanggakan tanah kelahiran dan keluarga besar.
Siaran berita malam saya dimulai dari pukul 19.00 wita selesai di pukul 20.05. Saat kembali ke ruang hias saya lihat ada lima panggilan tak terjawab atas nama Beny Adam. Belum selesai saya menyentuh layar untuk membuat panggilan balik, Beny sudah menelepon lagi.
“Assalamualaikum, halo? Mas buru-buru. Kayaknya ini telepon mas yang terakhir sebelum pendidikan dimulai. Jaga diri ya, mas yakin ading pasti mendapatkan yang terbaik jika berusaha. Wassalamualaikum”. Belum habis salam saya balaskan, sudah ada perintah untuk mengumpul semua alat komunikasi.
Saya akui saya perempuan yang mudah tersentuh hatinya seperti Mama saya. Mama sering sekali meneteskan air mata disaat menonton film atau bahkan video singkat yang menyentuh hati. Mungkin inilah kemiripan saya dan Mama. Air mata itu tentu diciptakan tanpa ditugaskan jatuh dengan sengaja.
Seleksi SSEAYP 2016
Technical meeting kembali diadakan di gedung Dinas Budaya Pariwisata Pemuda dan Olahraga provinsi Kalimantan Selatan. Ruangan yang berbeda membuat saya merasa menjadi peserta ‘baru’ dan belum pernah memiliki pengalaman seperti ini sebelumnya. Semua yang hadir merupakan wajah-wajah baru. Para alumni yang menjadi peserta pun sudah siap dengan daftar yang akan segera disampaikan kepada para pemuda pemudi yang yakin dan setengah yakin mengikuti seleksi ini. Saya tidak menemukan lagi seseorang seperti Farras. Saya murni sendirian, belum menemukan teman seperjuangan. Lagipula, Farras sudah menjadi senior dan alumni program SSEAYP. Dialah yang mendukung saya untuk mengikuti seleksi di 2016 ini dengan fokus ke satu program yaitu SSEAYP.
Jatah untuk provinsi Kalimantan Selatan tahun 2016 diumumkan di hari yang sama. Saya berdoa seluruh jiwa raga agar Kalimantan Selatan mendapatkan jatah perempuan khusus untuk SSEAYP. Selama menunggu seleksi 2016 saya sudah bertanya hati ke hati bahkan jiwa ke jiwa dengan Farras bagaimana pengalaman SSEAYP. Farras seseorang yang bisa menggambarkan perasaannya dengan raut muka. Beberapa pertemuan di warung kopi pada awal Januari berhasil membuat saya jatuh cinta bahkan sebelum menjalani programnya sendiri. Farras sering mengungkapkan “Rela rim! Rela cuti demi SSEAYP! SSEAYP ini luar biasa!”. Saya jelas percaya dengan itu. Seseorang yang bisa menggambarkan kebahagiaan dari rangkaian cerita-cerita nyata sulit membuat orang lain tidak tertarik dan ingin merasakan sendiri kebahagiaan tersebut. Foto-foto selama program membuat semangat saya memuncak, terlebih foto disaat seluruh kontingen Indonesia berbaris memanjang di tangga kapal Nippon Maru, mengenakan jas, peci, Garuda, dan senyum terbaik yang mereka miliki. Itu semua hanya yang bisa dilihat dari foto, bayangkan seberapa bangganya mereka!
“Slide selanjutnya adalah kuota untuk Provinsi Kalimantan Selatan.. semua siap?” tanpa menunggu teriakan “Siap!” Ka hery yang saat itu menjabat sebagai ketua alumni atau disebut Purna Caraka Muda Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan langsung melanjutkan slide yang ditayangkan dihadapan seluruh peserta.
Indonesia Korea Youth Exchange Program: Perempuan
Indonesia China Youth Exchange Program: Laki-laki
Indonesia Malaysia Youth Exchange Program: Perempuan
Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program: Perempuan
“Alhamdulillah! Rim! Perempuan! 20 Tahun! Menari! Wawancara! Kapal! Jepang!”, suara-suara di dalam hati saya seakan berteriak kegirangan dan menyebutkan kata-kata acak yang berhubungan dengan SSEAYP. Padahal pertarungan belum juga dimulai. Reaksi peserta lain ada yang “ah..” dengan nada lesu ada juga yang berseru “Alhamdulillah!” dengan kegirangan serupa dengan kata hati saya. Setidaknya ada yang mewakili perasaan saya.
Technical meeting dilanjutkan dengan menjelaskan syarat dan tahapan tes. Syarat masih sama, usia minimum juga masih sama yaitu 20 tahun. Ha! Kekhawatiran mengenai usia sudah tidak berani menjatuhkan saya kali ini. Persyaratan tentang status belum menikah dipertanyakan oleh salah seorang peserta perempuan. “Bagaimana jika setelah lolos, ternyata sebelum berangkat program memutuskan utuk menikah?” pertanyaan itu ditanggapi peserta dengan suara menggoda “Ciyee… nikah..” lucu juga.
Ka Hery langsung menjawab dengan senyuman, “Jika seperti itu akan digantikan oleh peringkat 2 dan seterusnya sampai dengan peringkat 5. Ini termasuk tidak hanya mengenai status pernikahan, tetapi juga jika terjadi hal-hal yang membuat peserta terpilih berhalangan untuk mengikuti program”.
Selanjutnya Ka Hery menerangkan tahapan seleksi. Hari pertama dan hari kedua. Hari pertama akan kembali dilaksanakan tes tertulis, essay serta presentasi mengenai essay yang telah ditulis. Sore harinya akan segera diumumkan 40 peserta terpilih yang bisa melanjutkan ke seleksi hari pertama. Agak berbeda dari tahun sebelumnya. Kali ini seluruh peserta memiliki kesempatan untuk berbicara dan mempresentasikan essaynya di hadapan juri sebelum melanjutkan kehari kedua atau dipulanglan. Hari kedua akan diisi dengan wawancara mendalam mengenai beberapa materi, yaitu: Kepemudaan, pemberdayaan masyarakat, bahasa Inggris, psikologi, PCMI, kebudayaan dan kebangsaan. Tidak bisa dibohongi saya kembali teringat tahun lalu. Saya belum mengenal dengan tes hari kedua. Sekilas saya berpikir pasti ada dari beberapa puluh peserta disini yang juga gagal di tahun sebelumnya dan memiliki flashback yang sama. Bahkan mungkin berhasil melalui seluruh tahapan namun tidak terpilih menjadi terbaik 1. Tapi yang pasti keyakinan saya kuat tahun ini. Saya akan selesaikan semua tes yang ada!.
Hari pertama, kakak saya sengaja membangunkan saya dengan lagu banjar “Sangu Batulak” yang salah satu liriknya “Mulai awan Bismillah, batis nang kanan kulangkahakan..” “Mulai dengan Bismillah, kaki yang kanan kulangkahkan”. Dia memang begitu, bisa saja mengambil momen yang pas dalam rangka menyemangati adik satu-satunya ini.
“Do’a ding, kalo pina lulus, tulak lagi am!” (Jangan lupa berdoa, siapa tau lolos, pergi lagi!) serunya sambil bersiap untuk pergi bekerja.
“Iya ka. Mun lolos kayapalah. Pasti kehimungan hahaha!” (iya ka, kalo lolos pasti seneng banget!) jawabku tak kalah antusias.
“Tapi jangan tapi beharap! Kena sakit hati!” (Tapi jangan terlalu berharap! Nanti sakit hati!). Dia sudah terbiasa dengan adiknya yang ikut tes ini itu. Bagi dia bukan perihal baru lagi jika adiknya sibuk mengisi formulir dan melengkapi berkas-berkas yang diharuskan.
Friday, March 17, 2017
Kali kedua
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment