Friday, March 17, 2017

Hari pertama

Map merah berisikan seperangkat formulir, foto, tulisan essay saya sendiri beserta tiupan doa saya masukkan kedalam tas bahu saya. Sekali lagi saya cek penampilan saya: Sepatu? Hitam mengkilat. Cek! Celana kerja hitam formal? Rapi. Cek!. Kemeja putih dengan kancing tinggi? Bersih. Cek! Riasan wajah minimalis? Not Bad! Cek!. Percaya diri? Maksimal. Cek!.
30 Menit waktu yang diperlukan dari rumah saya menuju tempat seleksi di gedung Pramuka.  Saya hadir 30 menit lebih awal, menghindari hal-hal tak terduga yang tidak diinginkan dijalan. Orang Banjar sering sekali menghubungkan hal-hal yang spontan dengan: Ban Bocor! Kada kawa ditangguh! (Tidak bisa ditebak!). Sesampainya saya diparkiran sudah banyak peserta perempuan berpakaian tak kalah rapi dengan mulut yang bergumam sendiri. “Mungkin mereka melatih presentasi essay mereka”, saya pikir. Perlahan-lahan saya naiki tangga menuju lantai dua gedung pramuka, menghalangi siapa saja membaca suasana hati saya yang mulai tidak karuan. Beberapa wajah sudah saya kenali sekarang, ada William teman saya SMP dulu, ada Kiki yang juga ikut seleksi tahun lalu dan berhasil lolos ketahap selanjutnya walaupun gagal di tahap akhir, dan ada juga kakak kelas saya SMA yang masih berkuliah di Universitas Indonesia, dia rela kembali ke Banjarmasin dari Jakarta untuk mengikuti seleksi tahun ini.
Ada Farras dan Adam beridiri di meja pendaftaran ulang,
“Apa seluruh berkasnya dikumpul sekarang ka?” saya sengaja mengajukan pertanyaan ke Farras. Biasanya saya tidak pernah memanggilnya kakak, hanya saja kali ini dia memang menjadi “calon kakak program saya”.
“Cukup lembar pendaftaran saja, sisanya akan dibawa sendiri kedalam ruangan seleksi. Silakan ambil nomor peserta. Siapa tadi namanya? Rima ya?” kami tersenyum sesaat sebelum saya menandatangani daftar hadir.
Saya sengaja menghindari perbincangan yang terlalu panjang tidak ingin membuat peserta lain merasa kurang nyaman dengan keakraban kami yang khusus untuk hari itu sebagai peserta dan panitia. Tangan saya masih memegang nomor peserta saya yang belum saya liat. 10 langkah dari meja pendaftaran saya berdiri dan bersiap melihat angka saya. Angka yang mungkin saja akan selalu saya ingat sebagai langkah pertama dari seribu langkah saya kelak. Empat puluh dua. 4-2. Saya langsung mencari hubungan angka 42 dengan apa saja yang sudah terjadi dihidup saya. Belum ada. Baiklah. Itu artinya 42 akan menjadi salah satu nomor istimewa dari hari ini.
Masih sibuk memasang nomor peserta di dada kiri saya, Tika datang bersama beberapa peserta lainnya.
“Rim! Seleksi juga ya! Semangat semangat! Mau program apa?” Tika langsung bertanya. Dia salah satu alumni program AFS atau pertukaran pelajar yang sama dengan yang saya jalani semasa SMA, saya ke Jepang dia ke Italia. Dia menyempatkan mengikuti seleksi walaupun saya tau dia pasti sangat sibuk menjalankan pendidikan dokternya, sama seperti dua sahabat baik saya dari kecil. Tampaknya kami berdua sama-sama tertarik dengan pertukaran pemuda, dan tidak menjadi pelajar SMA lagi.
“SSEAYP nih, pas ada jatah perempuan tahun ini! Ka Tika pilih apa?” Jawabku dilengkapi pertanyaan serupa.
“Korea kayanya ni Rim, biar ga cuti”. Tika menjawab sambil menutup tasnya dan menyiapkan alat tulis.
Saya sebagai mahasiswa FISIP sudah mendapat dukungan penuh dari dekan fakultas, kepala program studi ilmu komunikasi, dan seluruh dosen. Bahkan Pa Alif dosen pembimbing saya, semangat sekali disaat saya konsultasi mengenai seleksi ini. Jika lolos nanti, cuti tidak masalah bagi saya. Selama saya bisa menuntaskan perkuliahan dalam 4 tahun, satu kali cuti tidak akan memukul mundur rencana studi. Satu hal itu yang membuat harapan semakin panjang dan jalan terasa lebih mulus.
Para panitia mempersilakan seluruh peserta untuk masuk keruangan tes dan duduk dikursi yang telah disediakan secara acak. Mengulangi apa yang saya lakukan tahun sebelumnya, saya duduk di barisan paling depan. Mengambil nafas panjang dan mulai memperhatikan sekeliling ruangan. Dipojok kiri depan ruangan ada empat alumni program 2015 termasuk Farras mengenakan seragam A1 mereka berupa jas lengkap dengan peci serta bros garuda khas masing-masing program. Pinggir kanan ruangan tes ada dewan juri serta beberapa perwakilan dari Dinas Pemuda. Musik yang didengarkan pada saat itu berusaha keras untuk membuat suasana lebih santai, walaupun tidak bisa mempengaruhi perasaan seluruh peserta yang masing-masingnya komat kamit atau memutar mutar pen yang sudah dilatih agar bisa menghasilkan essay idaman.
“Rima kan? Aku temennya Beny. Inget nggak kita ketemu pas pemilihan Puteri Kalimantan Selatan beberapa tahun lalu?”. Saya terdiam berpikir sejenak, jika ini terlalu lama saya yang merasa tak enak. Butuh lebih dari 10 detik Dede mencoba mengingatkan saya dimana kami pernah bertemu.
“Oh ka Dede! Puteri Indonesia Kal-Sel 2014 kan?” Hal pertama yang membunyikan bel ingatan saya adalah Dede dulu sempat hadir disalah satu acara Nanang Galuh dan kami beberapa kali bertemu disaat saya masih SMA dan benar saja, saat itu saya mengikuti pemilihan Puteri Kalimantan Selatan dan membawa pulang predikat “Puteri Berbakat” yang mana hal tersebut menyadarkan saya akan tinggi badan saya yang memang tidak mencukupi jika ingin menjadi pemenang. Ah. Momen-momen sebelum menjadi mahasiswa.
Kami bercerita mengenai alasan mengikuti program, kabar orang tua Dede yang dulu pernah mengisi salah satu kelas yang saya ikuti, dan tentang Beny. Dede ternyata sahabat baik Beny dimasa SMA. Banjarmasin begitu kecil, disaat kita bertemu teman lama pasti ada saja hubungannya dengan teman kita yang lainnya. Pernah suatu waktu saya lewat dipinggiran kota Banjarmasin dan sengaja berhenti untuk membeli jamur renyah yang sudah banyak diminati warga Banjarmasin. Penjualnya masih muda sekali, mungkin dua atau tiga tahun lebih tua dari saya. Dari obrolan singkat dan permintaan untuk promosi via Instagram saya mengetahui dia baru saja menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas yang sama dan memproduksi jamur sendiri hingga menjadi jajanan siap makan. Dua hari setelahnya dia mengirim pesan melalui whatsapp. Ternyata kami sepupu jauh dari saudara mama saya. Entah Banjarmasin yang bisa dikatakan kecil, atau memang pohon keluarga yang terlalu besar.
Tidak lama saya dan Dede saling bersahutan, acara sudah dimulai. Sebelum panitia memberikan kertas jawaban. Acara dimulai dengan pengukuhan alumni 2015. Semua mata peserta tidak hentinya menyimpan seluruh momen-monmen yang terjadi saat itu, masing-masingnya berharap berdiri di posisi yang sama di tahun depan. Termasuk saya. Tidak lama, proses seleksi sudah dimulai tepat pukul Sembilan pagi. Tes tertulis saya sanggupi sewajarnya dan memanfaatkan waktu hingga detik terakhir. Saatnya tes menulis essay selama 30 menit yang menjadi tantangan besar di hari ini. 30 menit akan diisi dengan kalimat-kalimat berbahsa Inggris yang akan dinilai langsung hari itu juga. Tema kali ini adalah kontribusi di masyarakat sebagai pemuda. Persiapan saya berminggu-minggu lalu saya tuangkan di kertas putih bergaris rapi. Saya sengaja megangkat kegiatan saya dan teman-teman di Polresta Banjarmasin sebagai Duta Lalu Lintas, kami memiliki agenda rutin dan sering hadir ke sekolah-sekolah untuk memberikan pengetahuan tentang berkendara yang baik dan aman atau safety riding.
Saya sudah selesai memenuhi dua halaman kertas penuh dan juga sudah mengoreksinya beberapa kali. Memastikan apakah gagasan saya sudah tersampaikan, dan apakah tulisan saya sudah sejujur-jujurnya. Saya tidak ingin nanti disaat presentasi tergagap-gagap karena essay yang ditulis tidak sesuai dengan apa yang telah dilakukan. Sama saja palsu! Tarikan nafas panjang saya jadikan penutup tanpa ada penyesalan mengenai apa yang saya tulis dan tidak saya tulis. Waktu masih tersisa sedikitnya empat menit. Dari sudut mata, saya melihat ada peserta yang menulis hanya satu paragraf, ada yang sibuk mencoret dan menulis ulang, ada juga yang sudah duduk santai dengan kertas dibalikkan seakan-akan bertuliskan dikepalanya “Beri saya yang lebih sulit dari ini”.
Semua peserta dipersilakan keluar dan menikmati makanan ringan sebelum dibabat habis saat presentasi essay. Kami menghabiskan waktu menunggu dengan saling menyemangati atau lebih tepatnya saling berbagi “Gak apa apa” dan “Tenang saja”. Tiba saatnya saya, si 42 dipanggil masuk dan mempresentasikan essay dengan bahasa Inggris. Saya memahami penuh kerangka essay saya, dan dengan membungkusnya dengan kalimat-kalimat yang menarik tapi tidak menghilangkan makna, saya berhasil membuat juri mengangguk-angguk paham, walaupun terselip sekali salah satu juri mengerutkan keningnya.
Saya kembali dipersilakan keluar dan bersiap menunggu pengumuman 40 besar. Pada titik ini lah saya dipulangkan tahun lalu. Pengumuman 40 besar perlahan-lahan dimulai. Laki-laki diselingi perempuan maju satu persatu. Raut bahagia dan suasana riuh di ruangan langsung terasa.
“Empat Puluh Dua! Rima Hayati!” salah satu alumni menyebutkan nomor dan nama saya. Saya lolos ketahap selanjutnya.
“Sudah melewati pencapaian tahun kemarin Rim! Kali ini sudah 40 besar!”. Suara hati saya mulai berbangga. Saya tersenyum lebar sambil mengangkat badan yang sedari tadi berharap untuk berada didepan.
Tika dan Dede juga lolos ke tahap selanjutnya. Tentu saja, kontribusi masyarakat mereka sudah matang, dan prestasi di bidang masing-masing sudah tidak usah ditanyakan lagi. Pada tahap 40 besar menuju 20 besar, tidak ada lagi ekspresi ragu. Hanya ada pemuda pemudi yang percaya diri bahkan lebih. Saya sangat menyukai suasana persaingan sehat seperti ini. Disaat inilah saya merasa seseorang bisa mendorong paksa dirinya menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

No comments:

Post a Comment