Friday, March 17, 2017

Selanjutnya

"Saya seorang piatu dan sering membantu ibu saya berjualan di pasar. Saya merasa memberatkan ibu saya". Ucap salah satu peserta yang duduk dikursi seleksi bagian psikologi.
Saya langsung menoleh setelah kalimat tersebut diucapkan diiringi isakan tangis. "Loh, kok nangis?!" pikir saya heran. Saya terus mendengarkan sebagian cerita kehidupannya sambil memberi kode lambaian dan pesan non verbal lainnya kepada panitia untuk meminta kotak tisu.
"Kamu rindu ibu kamu?" Lanjut juri bidang psikologi.
Jawaban itu belum terjawab. Segera dilewati karena tangisan semakin menjadi-jadi.
"Jadi... Rima. Apa kabar?Gugup ya?". Giliran saya tiba.
“Jangan terbawa emosi Rima, tenang. Jawab dengan jujur dan percaya diri. Semuanya akan baik-baik saja. Tarik nafas dalam dan rileks”. Suara di hati saya mencoba menenangkan batin sendiri.
"Kabar saya baik kak, kalau gugup tentu saja." jawab saya singkat, menunggu pertanyaan yang sesungguhnya.
"Orang tua Rima sekarang dimana?". Pertanyaan yang sebenarnya mudah sekali saya jawab, tapi suasana wawancara kali ini sungguh berbeda, apalagi disebelah saya tidak henti tersedu-sedu masih karena pertanyaan pertama.
"Orang tua saya sudah meninggal kak, sewaktu saya masih 13 tahun dulu." Jawabku masih dengan senyuman yang sama. Saya tahu dia tahu senyuman saya hanyalah formalitas wawancara.
Juri bertanya lagi “Boleh Rima ceritakan apa yang terjadi saat itu hingga sekarang?” Saya terdiam beberapa saat mengatur emosi. Saya mulai berpikir dan memutar ulang memori mengenai bagaimana ibu saya sakit tahun 2005 di saat beliau dan Abah saya membuka pintu rumah dengan mata yang sembab dan hati yang mungkin tidak karuan . Saat itu saya merasa ada sesuatu yang aneh di antara mereka. Saya yang masih berusia 13 tahun masih belum mengerti, tapi sekarang tahu raut wajah yang seperti itu merupakan raut kesedihan, kekhawatiran dan tentunya kebingungan. Malam itu adalah malam disaat Mama saya divonis kanker payudara. Orang tua saya merupakan asli dari Kalimantan Selatan dan putra-putri daerah. Mereka besar tidak di kota seperti saya. Mama saya besar di kota rantau dan Abah saya besar di Kota Kandangan. Mereka berdua lalu pindah ke kota Banjarmasin untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi sebagai guru sekolah menengah atas. Percintaan mereka pun dimulai di saat mereka bertemu pada masa perkuliahan . Perbedaan usia yang hanya satu tahun membuat mereka memiliki pemikiran yang sama. Keinginan untuk membesarkan putri-putri mereka menjadi wanita wanita yang bisa berdiri sendiri bahkan di saat mereka telah tiada. Saya ingat dulu sewaktu saya kecil Ibu saya sudah mengajarkan tentang kewajiban seorang perempuan. Mencuci baju sendiri, mencuci piring bahkan memasak di saat kakak saya berusia 13 tahun dan saya masih 6 tahun. Berbeda dengan Abah. Abah seseorang yang tegas dan lembut pada saat yang beliau sendiri tentukan. Abah itu orang yang mengerti perasaan putri-putrinya, bahkan beliau seakan-akan bisa membaca apa saja yang terjadi di sekolah atau dalam pergaulan kami berdua sehari-hari . Pertanyaan juri juga membuat saya teringat saat hari minggu masih menjadi hari kesukaan saya. Hari Minggu adalah hari yang sungguh Istimewa karena di hari itu kedua orang tua saya tidak bekerja dan menghabiskan waktu di rumah bersama kedua putrinya. Setiap hari Minggu Mama selalu memasak untuk sarapan pagi dibantu dengan kakak saya. Abah pastinya sedang bercengkrama dengan tetangga sambil menyiram tanaman di halaman rumah yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membuat rumah kami yang kecil dan sederhana pada saat itu terasa sejuk dan sangat nyaman bagi kami Putri Putri nya. Masih saja jika ditanya apa kenangan terindah keluarga, saya akan menjawab adalah hari Minggu di saat orang tua saya masih ada, sebelum Mama saya meninggal dan Abah saya 9 bulan setelahnya. Saya dengan cepat menceritakan bagaimana saya menyaksikan Mama saya melawan kanker selama 4 tahun serta semua terapi dan pengobatan-pengobatan yang beliau jalani hingga akhir hayat.
Pertanyaan dari juri seharusnya saya jawab dengan singkat dan sejujurnya, tetapi pada saat itu saya malah terkenang dengan semua kenangan-kenangan indah bersama orang tua. Tidak bisa membohongi diri saya sendiri, bahwa saya juga merindukan orang tua saya seperti beserta yang di samping saya, yang kali ini tisu di tangannya saya ambil secara perlahan, takut dia akan merasa terganggu dengan kehadiran air mata saya juga.
Juri terdiam dan tersenyum saja menyaksikan saya yang berlagak kuat, mulai berhenti menjatuhkan air mata. Saya tutup kalimat saya dengan “Tentu, air mata saya hari ini tidak akan sebanding dengan air mata bangga orang tua saya jika berhasil lolos dan terpilih menjadi delegasi Indonesia”
Wawancara dilanjutkan dengan tes psikologi yang sebenar-benarnya, memilih beberapa gambar dan dimaknai oleh juri setelahnya. Beberapa wawancara selanjutnya cukup mendalam mengenai kontribusi masyarakat dan rencana kegiatan apa yang ingin dilaksanakan setelah program usai. Bidang kebangsaan yang cukup unik dan sederhana. Peserta diminta untuk menyebutkan Pancasila dengan lancang, komplit dengan seluruh pilar-pilar bangsa. Ada yang geleng-geleng kepala, lupa. Ada yang jujur sejujur-jujurnya tidak tahu. Ada juga yang sudah menyimpan catatan namun malah terbata-bata saat menjawab. Selain itu di bidang religi, saya mendapatkan pertanyaan mengenai tajwid Al-Qur’an dan mengumandangkan azan ditempat. Pertanyaan “siapa Tuhanmu?” sempat mengagetkan saya. Tapi kesimpulannya, semua wawancara berjalan lancar dan tanpa penyesalan.
Selesai sudah seleksi hari pertama. 40 peserta yang terdiri dari 20 laki-laki dan 20 perempuan bisa bersantai sejenak menunggu pengumuman 20 besar. Peserta akan dipotong setengahnya sore ini tepat pukul 18.00 WITA. Saya cukup puas dengan hari ini, banyak mendapatkan teman baru dan bisa memberikan semua yang terbaik di diri saya. Hati saya tidak mengucapkan “Apapun hasilnya yang penting sudah berusaha”, tapi hati saya berkata “Sudah aku bilang, kamu pasti bisa”.
40 puluh peserta sudah terikat di salah satu grup jejaring sosial, dan seperti yang hati saya prediksi akan ada kalimat “Apapun hasilnya yang penting sudah berusaha” tersebar, bahkan sebelum 20 besar diumumkan. Seharian ini ternyata banyak sekali peserta yang sudah menjadi 5 besar program di tahun 2015. Peserta-peserta kuat yang sudah semakin matang dan tahu apa yang harus diperbaiki dari tahun sebelumnya. Saya salah satu yang termuda saat itu kagum sekali dengan beberapa peserta yang dari cerita-ceritanya berani meninggalkan pekerjaan tetapnya untuk mengikuti program jika lolos. Suatu pengorbanan yang besar untuk suatu prestasi yang juga tak kalah besarnya.
Obrolan di parkiran bersama peserta lain yang sudah menjadi teman, mengulur waktu saya sebelum kembali kerumah. Saya senang sekali mendengar kalimat-kalimat semangat merka. Belum pengumuman saja sudah banyak yang berniat untuk mengikuti seleksi lagi tahun depan jika tahun ini belum berhasil. Ada yang berencana melihat pengumuman bersama-sama, saya pun diajak. Tapi saya pikir mungkin akan lebih baik jika menikmati momen yang ditunggu-tunggu seperti pengumuman kali ini sendirian. Bukan karena sungkan, tapi karena lebih bebas berekspresi, jika hasilnya seperti yang diinginkan ataupun tidak. Sengaja saya hitung-hitung durasi perjalanan agar setibanya saya dirumah, bisa langsung membuka halaman web Purna Caraka Muda Indonesia Kalimantan Selatan dan menggeser layar kebawah, meneliti nama yang tertera satu persatu.
Rumah saya masih kosong sore itu. Internet belum bisa dipasang karena rumah saya dan kakak adalah perumahan yang tanahnya baru dibuka. Satu-satunya harapan adalah melihat dari smartphone: kabar di jejaring sosial, atau membuka halamannya langsung. Saya putuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu, mengulur-ulur waktu. Waktu menunjukkan pukul 18.15 WITA. Smartphone saya diamkan diatas meja makan. Saya ambil segelas air putih dan duduk rapi layaknya para tentara duduk siap. Satu tarikan nafas. Dua tarikan nafas, dan saya ambil smartphone, membuka kunci layarnya dan mencoba menghindari pemberitahuan jejaring sosial yang sudah mulai penuh dengan ucapan sekilas lewat bertuliskan “Congratulations…”. Lalu saya tekan ikon bergambar dunia berwarna chrome, mengetikkan alamat tujuan: pcmikalsel.org, dan langsung mendekatkan layar kewajah. 
Dear participants,
Hereby we announce 20 survivors to get 4 golden tickets for PPAN 2016 Kalimantan Selatan. This list also includes your group performance at once:
Group 1:
1. Adetya Norizkyka
2. Eko Ardian Novi Saputri
3. Hanifa Nurunnisa
4. Luluk Nindya Rizki Amanda
5. Muhammad Arie Sya’bany
6. Natalia Lois Pakasi
7. Nurul Rezeki Atika
8. Rizali Hadi
9. Sally Meirisa
10. Susanna Suryani Rimba
Group 2:
1. Anita Zulrakhmida Fajriani
2. Dinny Mutia Sari
3. Laila Indriyanti Fitria
4. Muhammad Farayunanda R
5. Muhammad Khoiri Albana
6. Rima Hayati Authari
7. Sitti Euis Syannun N
8. Veronica Fernanda
9. William Tanumihardja
10. Yessy Leonora Utari
We would like to invite you 2nd substantive selection tomorrow at 8AM. Here are the lists that you should note:
*Wear the formal outfits first.
*Bring your own cultural performance properties.
Have a big rest and be ready for tomorrow battle!
For all participants, we are proud of your well being and bravery to challenge today’s selection. We hope to see you again next year with your improvement.
SET YOUR SAIL, OPEN YOUR MIND AND EMBRACE THE JOURNEY!
Syukur kepada Tuhan, detik-detik yang menegangkan sudah berlalu disaat huruf R di angka 6 itu berdiri bersama I-M-A. “LOLOS!” kata hati saya girang. Saya minum air putih yang sudah saya siapkan sebelumnya, seperti air doa saja. Ternyata minum air sambil tersenyum lebar adalah cara minum yang kurang efektif.

No comments:

Post a Comment