Hari seleksi kedua terkesan lebih serius dibandingkan hari pertama. Kami akan menghadapi wawancara panel yang lebih mendalam bersama 4 alumni program pertukaran Pemuda antar negara Kalimantan Selatan. Selain itu kami memiliki kewajiban untuk menampilkan suatu penampilan seni dan budaya Kalimantan Selatan bersama kelompok yang sudah dibagi pada seleksi hari pertama. Saya salah satu anggota kelompok dua bersama Dede. kami diwajibkan untuk membawa busana yang bisa menunjang penampilan kesenian kami. Saya memutuskan untuk membawa pakaian Dayak yang sudah pernah saya tampilkan pada seleksi pemilihan Duta Mahasiswa 2016. Waktu itu saya menampilkan tarian Dayak kontemporer yang bisa dibilang unik dan menarik banyak penonton. Kali ini saya sebenarnya juga merencanakan menampilkan tarian yang sama, lengkap dengan bubuk damar dan sumbu yang sudah siap untuk dijadikan obor. Tarian Dayak yang ingin saya tampilkan adalah tarian yang biasanya digunakan dalam menyambut tamu kenegaraan atau di saat ada festival budaya di Banjarmasin. Tarian ini istimewa karena ada kombinasi gerak menyembur api obor dengan bubuk damar, saat bubuk dilempar ke arah sumber api dan apinya membesar kelangit. Tapi karena kami sudah dibagi menjadi dua kelompok maka penampilan akan dilakukan per kelompok dan tidak perorangan. Kelompok saya memutuskan untuk menampilkan suatu penampilan teaterikal gabungan antara seni tari, suara, dan tutur. Kami sudah merencanakannya di malam sebelum seleksi hari ke 2. Segera setelah mengetahui kami berada di kelompok mana dan apa yang harus kami lakukan.
Leaderless Group Discussion harus kami lewati bersama dengan peserta lain ditemani satu alumni. Seluruh peserta terbagi di tiap-tiap kelompok kecil. Tema kali ini membahas bagaimana caranya melestarikan pasar terapung yang ada di Kota Banjarmasin. Diskusi diharuskan menggunakan bahasa Inggris sepenuhnya. Jujur, awalnya saya merasa kaku disaat harus berdikusi bersama peserta lainnya. Akhir-akhir ini saya jarang menggunakan bahasa Inggris di saat berdiskusi. Saya merasa bahasa Inggris saya jauh lebih baik di saat saya tinggal di Jepang dulu dibandingkan sekarang. Saya merasa saya terlalu fokus dengan kuliah dan sedikit mengabaikan kemampuan bahasa Inggris saya di saat berdiskusi. Diskusi berjalan lancar, durasi yang diberikan adalah 30 menit, dan semua peserta di kelompok saya mendapatkan porsinya masing-masing. Tapi tentu saja di setiap kelompok diskusi pasti ada yang terkesan ingin mengambil alih kendali dan ada juga yang terkesan ingin bersifat pasif dihadapan peserta lain. Saya sempat mengintip kelompok lain di lingkaran kecil sebelah saya. Hanya beberapa peserta yang berdiskusi dan jarang sekali ada yang ide. Saya yakin juri mengharapkan adu argumentasi yang terkait dengan ide-ide segar dan memberikan solusi yang terbaik untuk semua pihak berdasarkan tema yang dibahas. Diskusi sudah kami lewati. Detelah jeda sholat dan juga makan siang kami akan menghadapi satu kali lagi wawancara yang lebih mendalam bersama alumni. Wawancara ini berbeda dibandingkan wawancara hari pertama. Kali ini satu peserta akan menghadapi lima atau lebih alumni di dalam satu ruangan khusus, dan wawancara akan menggunakan 100% bahasa Inggris. Kisi-kisi wawancara ini adalah kontribusi masyarakat, kepribadian dan program apa yang kita inginkan, atau setidaknya itu yang kami dapat dari peserta yang sudah menjalaninya tahun lalu.
Seluruh peserta menunggu diruang seleksi tertulis, santai sekali. Waktu kosong diisi dengan permainan-permainan yang didapat alumni dari program. Kami didudukkan melingkar membentuk lingkaran besar, saling bercerita dan membuka rahasia alasan-alasan tersembunyi dibalik keikutsertaan masing-masing. Dalam lingkaran selalu ada satu kursi kosong, kursi peserta yang sedang menjalani 'sidang'.
"Bersiap selanjutnya nomor 42, Rima Hayati". Farras mengumumkan nama saya disela-sela cerita salah satu peserta yang mulai berkaca-kaca, lagi.
"Semangat Rim!" seluruh ruangan menyemangati saya. sebenarnya tidak hanya saya yang disemangati. Tiap ada peserta yang kembali atau mendapatkan giliran 'sidang', selalu kami sambut dan antarkan dengan tepukan tangan meriah.
Saya bangkit dari kursi saya, membuka jalan menuju pintu ruangan, di langkah ketiga saya secara acak teringat ibu asuh saya di Shizuoka, Jepang. Beliau pernah berucap ketika mengantarkan ke pemberhentian bus menuju bandara di akhir program setahun saya,
"Rima chan kan sudah belajar banyak di sini (Jepang), pulang ke Indonesia harus menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Rima chan anak perempuan yang membanggakan keluarga Kobayashi, sudah seperti anak kami sendiri".
Saya tersenyum sambil melewati pintu ruangan, lalu belok kanan menuju ruangan yang lebih kecil. Masih terdengar suara salah satu peserta, itu Tika. Terdengar kalimat-kalimat tegas yang mantap dan diiringi suara tawa santai oleh semua orang di dalam ruangan. Saya yakin wawancara dia kali ini pasti tanpa ada kekurangan. Duduk disebrang saya salah satu alumni, yang juga saya kenal sedari dulu, Yandhi.
"Jangan tegang Rim!"
"Nggak kok kak, cuman belum rileks saja."
"Rima kan sudah terbiasa wawancara, kali ini pasti akan berhasil dengan baik."
"Ka, saya… agak khawatir.."
"Ah, jangan ragu! Kaka saja mencoba Pertukaran Pemuda ini lebih dari tiga kali sebelum lolos, ini baru kali kedua kamu kan?". Saya mengangguk saja tanpa balasan dan memutuskan untuk berdoa di dalam hati. Sepertinya Tika sudah hampir menyelesaikan wawancaranya.
"Oke, giliran kamu Rim!" Yandhi memberikan kode dengan matanya, mempersilakan saya masuk ke ruangan. Tika melewati saya dengan senyuman lega yang baru saja dia peroleh.
Terdapat 4 juri utama, dan beberapa alumni muda dibelakangnya berdiri acak. Saya dipersilakan duduk dan mengenalkan diri. So far so good. Saya ditanyai mengenai kemampuan bahasa Jepang saya, bagaimana saya menyikapi permasalahan, apakah saya rela cuti kuliah untuk SSEAYP dan satu pertanyaan yang masih saya ingat.
"Jika diminta mengurutkan, apa yang kamu prioritaskan: Pendidikan, karir, keluarga, atau pasangan." juri yang lain tersenyum, apalagi para alumni baru yang dari tadi menyimak dibelakang sambil mengumpulkan dokumentasi seleksi. Saya pun termasuk dari salah satu yang tersenyum di ruangan itu. Sepersekian detik saya ingat Beny, mungkin dia sedang latihan di hutan sekarang. "Rim, fokus!", pikiran saya kembali ke ruangan wawancara.
"Ibu saya berpesan agar terus melanjutkan sekolah saya, artinya pendidikan menjadi utama, saya pun begitu. Jika diminta mengurutkan saya akan menempatkan keluarga pertama. Mereka yang membesarkan saya dan mendukung saya sampai dengan sekarang, ini termasuk juga keluarga masa depan saya."
"Maksud kamu keluarga kamu satukan dengan pasangan?" sela salah satu juri disaat ada cela.
"Betul, setelahnya pendidikan dan karir saya, karena disaat keluarga kita mendukung dan mendoakan, maka Tuhan pasti akan memberikan kemudahan untuk segala rencana pendidikan dan karir kita" saya rendahkan intonasi memberi tanda akhir dari jawaban saya.
"Baik, jadi keluarga, pasangan, pendidikan dan karir ya?" kesimpulan juri yang cukup singkat, saya pikir.
"Keluarga, pendidikan dan karir" saya berikan jawaban yang lebih singkat.
"Setuju ". Ucap salah satu juri lalu mencantumkan nilai di kertas yang segera ditutupi dengan mapnya.
"Baik, apakah ada tambahan dari juri lain?" sesama juri melihat satu sama lain dan sama sama setuju bahwa wanwancara kali ini sudah cukup.
Saya pamit undur diri, dan salim cium tangan kepada seluruh juri, mengangguk kepada alumni dan membawa diri saya keluar dari ruangan.
Habis sudah usaha saya. Sepanjang perjalanan kembali ke ruangan, wawancara yang baru saja saya lewati tadi adalah wawancara tersingkat dari semua wawancara yang saya lewati beberapa tahun terakhir. Ada sedikit keraguan di diri saya, tapi semuanya sudah berakhir, hanya 120 menit lagi sebelum mengetahui siapa yang berangkat Oktober nanti di program SSEAYP.
Ternyata 120 menit itu, menit-menit tercepat dihidup saya. Kak Sri, salah satu perwakilan alumni dan juri sudah siap untuk mengumumkan terbaik kelima hingga terbaik pertama setiap program. Saya mencari-cari Farras, siapa tahu saya bisa membaca pesan dari wajahnya. Farras, dimana Farras.. Saya celingukan.
Peringkat pertama Program Indonesia Korea Youth Exchange Program, Tika. Dede menjadi peringkat kedua. Untuk program Indonesia China Youth Exchange Program, satu-satunya program untuk laki-laki tahun ini diperoleh Albana. Untuk Indonesia Malaysia Youth Exchange Program, sudah berdiri didepan, Natalia Lois. Saat SSEAYP mulai diumumkan, saya masih mencari-cari Farras. Itu dia. berdiri di kanan panggung sedari tadi melihat saya yang sudah gelisah. Saya sipitkan mata saya menyampaikan pertanyaan dalam hati.
"Gimana Ras?" Farras tersenyum dan mengangguk.
"Serius?!" hati saya langsung berpacu, tenang.. tenang.. belum diumumkan.
"Peringkat pertama dan yang akan menjadi calon peserta SSEAYP ke 43 tahun 2016 adalah.." jeda yang terlalu menegangkan.
"Rima Hayati Authari"
Ruangan terlihat riuh dibalik air dimata saya, rasanya hening dan khidmad. Sudah lama saya tidak merasakan momen seindah ini. Mulut saya terus berucap terima-kasih atas tepuk tangan dan ucapan selamat teman-teman yang ada. Kaki-kaki saya melangkah kedepan dengan ringan, pasti karena darah saya mengalir begitu cepat keseluruh tubuh. Apa yang saya lakukan sehingga saya pantas mendapatkan nikmat ini Tuhan?
Friday, March 17, 2017
Hari kedua
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment